BERHENTILAH SEBELUM GELAP

0 comments

Mengingat masa lalu, tepatnya diakhir tahun 80-an sampai awal 90-an, aku selalu melakukan pendakian pada malam hari. Alasannya simple saja waktu itu, biar gak berasa cape. Selain faktor keterbatasan logistik. Zaman itu, ya masanya susah. Kiriman dari ortu sangat terbatas, sekali naik gunung jika ngikut standard bisa puasa sebulan. apalagi kalau naiknya yang jauh2, wah.. bisa berbulan2 survival di kampus.

Merapi lewat jalur selatan adalah favorite untuk menuntaskan hasrat mendaki. Dari Kampus IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga, tingga jalan kaki sekitar satu kilo (perempatan Jl. Solo - Gejayan) untuk bisa naik bus BAKER jurusan Kaliurang. Bus terakhir jam 16.00 wib dengan ongkos Rp. 500,- Sesampe Terminal Kaliurang, kami akan menuggu sampai post penjagaan wisata tutup biar gratis. Selanjutnya berjalan kaki menuju Dusun Kinahrejo yang berjarak kurang lebih 3 Km atau Bebeng.

Sesampai Kinahrejo, kita bisa bebas memilih rumah penduduk atau warung yang buka 24 jam. Bisa santai, ngobrol ngalor ngidul menunggu waktunya untuk mulai mendaki. Umumnya saat itu, jam 22, sudah mulai ada yang mulai jalan. Aku sendiri selalu naik sekitar jam 00 atau jam 1.00 wib. Jam segitu, sudah sepi, tinggal beberapa orang saja yang baru mulai mendaki pada jam segitu. Sehingga kita bisa berjalan lebih cepat tanpa harus antri pada beberapa jalur sempit setelah post rudal (post dua). Disebut rudal karena disana ada monumen rudal. di post ini juga ritual labuhan Merapi dilakukan.

Mendaki malam, apalagi dengan rombongan kecil atau bahkan solo, memang terasa lebih cepat. Selain istirahat hanya sekedarnya, jalanan menjak yang membuat mental down tidak begitu terlihat jelas. Udara dingin memaksa kita untuk terus bergerak. cuaca dingin juga menyebabkan kita tidak tidak terlalu merasa haus sehingga menghemat air. dan yang terpenting yang dipikirkan untuk mendaki Merapi saat itu adalah, sesampe pawon semar -  asap belerang tidak begitu pekat dan bau. sangat berbeda jika kita sesampai kepulan asap belerang itu pada siang hari. selain pasiran pada batas vegetasi juga masih padat, sehingga lebih mudah untuk dilewati.

Berbagai pertimbangan itu di atas, akhirnya melupakan sisi lain yang jauh lebih penting dalam pendakian,  KESEHATAN dan KEAMANAN itu sendiri.

Kesehatan itu..

Manusia didisain sebagai mahluk yang aktif pada siang hari. Malam hari adalah masa untuk mengistirahatkan tubuh. Cukup banyak hasil riset menunjukan implikasi manusia yang tidak menggunakan waktu istirahat pada malam hari terhadap organ-organ tubuh. Jangankan tubuh dipaksa untuk bekerja, sekedar tidak tidur saja akan berpengaruh besar.  

Beberapa penelitian menyebutkan secara general sebagai dampak orang tidak tidur malam, seperti meningkatkan risiko diabetes, obesitas, hypertensi, kangker dan jantung. ada juga yang menyajikan lebih rinci bahkan detil. Akibat terganggunya jam bioligis tubuh menyebabkan kekacauan. kurang tidur akan menyebabkan gangguan pada fungsi hati. gangguan ini dapat memicu kangker hati atau hepatitis C.

Beberapa refrensi menyebutkan ritme tubuh sesuai dengan jam adalah:
  • Pukul 21.00-23.00: terjadi pembuangan zat beracun di bagian kelenjar getah bening. Oleh karenanya, pada waktu tersebut haruslah dilewati dengan keadaan yang rileks. Apabila di waktu itu seorang  masih melakukan aktivitas yang berat maka akan mengganggu kesehatannya. Itulah salah satu alasan bahaya begadang bagi tubuh kita.
  • Pukul 00.00-04.00: sumsung tulang belakang menghasilkan darah. Proses ini berlangsung dalam keadaan tidur.
  • Pukul 01.00-03.00: terjadi pengeluaran zat beracun di bagian empedu. Proses ini berlangsung dalam keadaan tidur. Untuk itu jangan begadang karena akan menghancurkan organ tubuh ini.
  • Pukul 03.00-05.00: pembersihan di bagian paru-paru. Proses ini akan mengakibatkan batuk yang cukup hebat karena de-toxin sudah mencapai saluran pernafasan. Sehingga batuk ini tidak perlu diobati agar tidak mengganggu proses de-toxin.
  • Pukul 05.00-07.00: proses de-toxin di bagian usus besar. Sehingga buang air diperlukan pada waktu itu.
  • Pukul 07.00-09.00: terjadi proses penyerapan nutrisi makanan di bagian usus kecil. Sehingga diperlukan makan pagi untuk melindungi kesehatan kita.

 Nah, dari informasi ini kita bisa melihat jika melakukan pendakian pada malam hari?

Faktor Keamanan

Sukses berpetualang di alam bebas adalah kembali dengan selamat sampai rumah dan kembali dapat melakukan aktifitas dengan produktifitas yang meningkat. Mencapai puncak sekalipun itu menjadi target dalam pendakian, harus dikesampingkan jika dapat membahayakan keselamatan, apalagi sampai mengancam jiwa. Gunung dan puncaknya akan tetap dengan setia di tempatnya. sekalipun faktor penyerta, tentu akan mempengaruhi kesempatan kita untuk bisa kembali menjajakinya. tapi itu dapat diusahan. Berbeda jika jiwa melayang atau kemampuan kita menurun akibat kecelakaan.

Mendaki pada malam hari memiliki risiko lebih besar dibandingkan pagi - sore hari. Risiko bisa karena faktor cuaca, faktor cahaya, kondisi tubuh atau beberapa satwa nokturnal yang bisa berbahaya. Beberapa faktor bisa saja diatasi dengan perlengkapan yang memadai. Faktor cuaca, bisa diatasi dengan pakaian hangat, gelap dengan menyiapkan alat penerang yang saat ini sudah sangat canggih. demikian juga satwa yang mungkin berbahaya dengan bergerak secara berombongan. tapi terkait kondisi tubuh yang menuntut untuk beristirahat, tidak bisa. Kondisi tubuh ini pada akhirnya berpengaruh terhadap mental dan fisik. Menurunnya kewaspadaan akibat daya tahan tubuh menurun sangat membahayakan, apalagi pada medan yang sulit dengan suasana yang gelap.

Akan ada pembenar dalam setiap tindakan yang kita lakukan. Ini juga aku alami kok saat masih mendaki malam. "kan gak setiap hari kita begadang, cuma sekali2 aja. jadi gak pengaruh amat lah sama kesehatan", "sampe sekarang kita sehat dan baik2 aja kok kalau pun selalu naik malam", "alah.. ribet amat, badan-badan kita, "ngapain repot sih ngurus orang lain, urus aja dirimu sendiri", "kalau persiapan sudah dilakukan dengan baik, mau naik malam atau siang hari, sama aja kok", dan akan ada banyak argumen pastinya. Tapi yang namanya merasa atau sok  benar, bukan benar beneran bukan?

akhirnya, semua itu akan kembali ke masing-masing juga. Berbagai pertimbangan pada akhirnya akan membuat kita membuat keputusan itu. Membuat keputusan dengan memahami risiko tentu akan sangat baik, karena kita akan juga mempersiapkan berbagai upaya menekan risiko yang mungkin terjadi. 

Namun dari itu semua ada hal yang pasti: 

Gunung itu bukan tempat sampah. Bawa kembali sampahmu kawan......  


PANDEMI COV 19 DAN AKTIFITAS PETUALANGAN

0 comments

Tiga bulan pertama paska negeri ini mengumumkan "darurat" atas pendemic COV 19, bisa jadi negara bagi sebagian orang. Tak pelak bagi organisasi pencinta alam dan anggotanya. ditutupnya aktifitas akademik sebagai bagian pencegahan dan menutup mata rantai penularan, berdampak para aktifitas yang telah direncanakan dalam agenda kerja. Bingung mau ngapain? sudah pasti, karena ini merupakan kejadian pertama yang dirasakan para milenial. Kasus sebelumnya tentu hanya cerita yang tak berbekas dalam ingatan. Selain pandemic serupa terjadi pada masa penjajahan (1918 - 1920), juga karena pengalaman dan pengetahuan tidak menjadi sebuah pembelajaran. Pada kasus wabah seperti flu burung, flu babi, ebola dll, lebih didominasi riung politisnya.

Ada kebanggaan dari berbagai inovasi yang dilakukan Kelompok Pencinta Alam (KPA) mensikapi tantangan pembataasan interaksi sosial ini. Diklat online misalnya. Tentu tidak sederhana menjabarkan gagasan sampai teknis pendidikan dasar pencinta alam yang mengutamakan praktik dan pengalaman langsung dalam proses pendidikannya. Tantangan pertama, sudah pasti dalam mensikapi bebagai perbedaan pandangan sesama pengurus, anggota maupun para senior. Beragam pengetahuan, pengalaman maupun jejaring yang dimilik masing-masing akan mewarnai pendapatnya dengan argumentasi yang bisa jadi sama-sama kuat. tapi harus ada titik temu yang saling menghormati dan menghargai untuk kebaikan organisasi yang dicintainya. tantangan lain tentu dalam merumuskan metode dan pendekatan, proses maupun sistem pemantauan dan evaluasinya dalam satu kesatuan kurikulum yang tetap menjamin produk yagn dihasilkan; pengetahuan, ketrampilan dan perubahan prilaku serta jiwa korsa atas organisasi.

Tidak bisa dipastikannya berapa lama pandemik akan berlangsung, membuat gelisah tidak saja KPA, tapi juga para penggiat alam bebas, khususnya mendaki gunung yang tidak lagi menjadi icon  KPA seperti di era 70 - awal 90an. Setiap orang bisa mendaki gunung. Perlengkapan pendakian yang beragam dan mudah didapat serta relatif terjangkau, keterbukaan informasi serta kemudahan sarana transportasi, menjadikan kegiatan mendaki gunung telah memasuki era wisata masal. pada tahun 2018, Gunung Semeru, jumlah pendaki mencapai 853.016 (detik.com), Gunung Gede Pangrongo 41.063 (TNGGP, 2018), Rinjani 82.779 (TNGR, 2017). Ini belum pendaki yang melakukan pendakian melalui jalur tikus dan tidak terdata. Sebagai gambaran, saat gempa di NTB tahun 2018, jumlah pendaki yang dievakuasi sebanyak 1.226 orang. Dari jumlah ini tentu kita mendapatkan gambaran, berapa jumlah pendaki setiap tahunnya?

Film pendakian yang populer seperti 5 cm dan keberadaan media sosial turut berkontribusi populernya olah raga yang sebelumnya menjadi ciri khas manusia-manusia dengan pakaian sekenanya, rambut gondong berbaji flanel atau kaos oblong dan.... jarang mandi. Perlengkapan gunung yang stylist dan berharga fantastis, juga turut mendongkrang gengsi aktifitas mendaki gunung sebagai olah raga yang keren. wal hasil, medsos seperti FB dan IG, dipenuhi dengan postingan pendakian dengan beragam gaya.

Masa pandemik, tentu menjadi ujian berat bagi pendaki penggila medsos. tiga, empat atau lima bulan tanpa up date status mejeng di puncak atau didepan tenda dengan latar belakang gunung, membuat hidup gak afdol. sehingga mulai kasak kusuk, bagaimana bisa mendaki, sekalipun dengan cara illegal. bahkan cara ilegal pun dipolitisir sebagai bagian tantangan yang memicu adrenalin. dan... jreng.. jreng... jadilah mereka melakukan pendakian ilegal. Tapi sebagai penggila medsos, tentu tidak boleh dilewatkan untuk tetap up load aktifitas illegalnya. video dan foto pun beredar di jagat maya.. tujuan tercapai sudah. urusan di bully, itu perkara lain. ada juga beberapa yang tertangkap tangan dan mendapat black list mendaki beberapa gunung pada kurun waktu tertentu.

Pandemik sebagai media refleksi diri dan pemulihan fungsi ekologis kawasan

Sisi positif dari pandemik dari aktifitas pendakian, tentu bagi alam itu sendiri. Bagi beberapa gunung di kawasan konservasi seperti Gede-Pangrango, Semeru atau  Rinjani, telah ada aturan untuk menutup gunung untuk memberikan kesempatan bagi lingkungan untuk memulihkan diri. Aturan ini juga telah diikuti oleh beberapa gunung non kawasan konservasi seperti Slamet, Sumbing, Arjuno-Welirang dll. sekalipun ini lebih dikaitkan dengan cuaca ekstrim yang dapat membahayakan pendaki.   

Saat pendemic dan upaya pencegahan penyebaran, hampir seluruh gunung tertutup untuk pendakian. Kondisi tiga bulan masa penutupan adalah masa penting bagi kawasan untuk memulihkan dirinya. dari pantauan penduduk lokal, selama masa penutupan, banyak satwa beraktifitas diseputar jalur pendakian. ini tentu menjadi bagian refleksi bagi kita semua, jalur pendakian yang umumnya ramai saat akhir pekan merupakan habitatnya. mereka tentu akan terganggu dengan kehadiran manusia. Belum lagi terkait sampah non organik yang berserakan sepanjang jalur pendakian dan menggunung pada setiap pos.

Pada masa pandic, dimana kita diminta untuk lebih banyak di rumah sejatinya dapat dijadikan untuk refleksi diri atas aktifitas kita di gunung. sebeberapa besar kita merkontribusi menurukan kualitas lingkungan selama kita beraktifitas. juga dapat menjadikan refleksi atas kemampuan terhadap aktifitas pendakian yang aman. apakah kita telah memiliki kemampuan mengelola perjalanan pendakian, memiliki pengetahuan tentang navigasi, survival, pertolongan pertama atau terkait cuaca? selama masa break, kita bisa menggunakan berbagai fasilitas yang ada untuk memperdalam dan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Iseng-iseng, kita bisa mempraktikan membuat api dengan peralatan yang ada di alam. mulai mempraktikan membuat bivak, memurnikan air, atau membuka kembali teknik navigasi darat. 

Group pada media sosial, dapat menjadi ajang saling berbagi pengetahuan dan keterampilan. tentu ini akan sangat bermanfaat, selain mulai mencari inovasi dalam mempraktikan pendakian yang aman pada saat wabah masih menjadi ancaman. Dan ini menjadi tantangan bersama tentu, saat gunung-gunung mulai membuka diri kembali dengan berbagai aturan keamanan terhadap penyebaran wabah. Kita dan keluarga kita sangat tidak berharap, kita pulang dari pendakian membawa virus itu ke keluarga kita.


     

  


PENDAKIAN SOLO, kenapa harus dilakukan?

0 comments
Pro kontra selalu muncul diantara para penggiat pendaki gunung atas pendakian solo atau mendaki seorang diri. Bagi yang kontra, aspek keamanan bagi si pendaki sendiri merupakan alasan utama. selain faktor tidak merepotkan orang lain saat terjadi insiden si pendaki. tapi bagi si pelaku, pendakian seorang diri merupakan sebuah tantangan yang memicu adrenalin.  tentu akan muncul rasa bangga dan kepuasan setelahnya. Apakah itu juga jalan untuk terkenal? Bisa jadi, bagi selibiritis gunung, tentu ini akan jadi media juga. Tapi rasa-rasanya, dari sekian pendaki solo, mungkin hanya sedikit yang punya niat untuk jadi terkenal. Karena salah satu yang khas dari pendaki solo itu, jarang mendokumentasikan diri alias selfie. Jarang itu artinya bukan anti atau sama sekali yeee.....

Akhir tahun 80-an sampai pertengahan 90-an, adalah masa merasakan nikmatnya mendaki solo. Mendaki bukan diakhir pekan, bisa jadi kita tidak akan menemukan pendaki selain kita sendiri. Beberapa jalur sepi gunung adalah alternatif lain untuk merasakan kesendirian. Namun, hari dan jalur sepi pengunjung saat ini nampaknya sudah tidak ada untuk gunung2 di Jawa. Ciremai jalur Apuy saat ini telah menjadi jalur favorite yang bisa mencapai 500 orang pendaki dalam satu hari. Demikian juga jalur Selamet via Sirampok atau Guci, Gede via Salabintana, Salak lewat pasir reungit, Merapi melalui Kinahrejo/Bebeng, tlogo lele, Semeru leat Gubuk Klakah dll. Namun untuk gunung-gunung luar jawa, sampai saat ini masih menyediakan kesunyian, terutama jika bukan weekend.

Kembali ke pro dan kontra, tidak bisa disalahkan dari keduanya, karena tentu memiliki argumentasi kuat. Buat yang kontra, alasan keamanan merupakan  hal utama dalam kegiatan alam bebas. bisa merepotkan jika ada insiden merupakan pengembangan argumentasi dari persoalan kemanan. Karena terkait insiden bisa terjadi pada siapapun, baik pendaki solo maupun berkelompok. Proses pencarian dan penyelamatan maupun evakuasi pun tidak berbeda.

Alasan keamanan tersebut umumnya dijawab oleh para pendaki solo dengan menyiapkan berbagai kebutuhan pendakian yang aman. Baik terkait pengetahuan dan keterampilan, kondisi fisik, perlengkapan, perbekalan, maupun sistem komunikasi. Dengan memenuhi keamanan pendakian solo, kehawatiran menjadi minimal. Argumentasi tambahan dari para penggemar mendaki solo, terkait data insiden yang menyebabkan kematian. justru terjadi lebih banyak pada pendaki berkelompok dibanding pendaki solo. Apakah ini terkait dengan pengetahuan, skill dan pengalaman yang dimiliki, perlengkapan yang dibawa serta kesiapan fisik dan mental, atau ada faktor lain?

Dari pengalaman pribadi, dalam pendakian solo memiliki persiapan lebih. Dari mulai mempejari lokasi tujuan dan karakteristiknya plus transport dan sosial budaya masyarakat, peralatan yang akan dibawa sesuai dengan musim, alat navigasi, P3K, logistik sesuai perkiraan waktu pendakian dan dana yang mencukupi, wal hasil, bawaan menjadi lebih jumbo dibandingkan mendaki berombongan. Dan yang pasti, jujur pada diri sendiri serta mendengar masukan, apalagi jika dikaitkan dengan adat atau tradisi setempat. 

Jujur pada diri sendiri, khususnya terkait kondisi fisik ini yang kadang berat. Bisa saja saat kita berangkat dari rumah sampai lokasi kondisi kita sangat fit. Namun selama diperjalanan, entah karena terlalu cape, makan dan tidur kurang teratur atau tertular virus, menyebabkan badan kita drop sesampai base camp. Bisa dibayangkan, sudah datang jauh-jauh, sudah keluar biasa dan waktu, masa gak jadi naik?  Wal hasil, memaksakan diri lah untuk tetap mendaki. hasilnya tentu akan merepotkan diri kita sendiri. bersyukur tidak terjadi insiden, jika iya, tentu akan merepotkan orang lain. untuk itu, jujur pada diri sendiri atas kondisi fisik, kelengkapan alat, ketersediaan logistik maupun hal-hal yang terkait keamanan dan keselamatan menjadi hal utama bagi pendaki solo.

Hal kedua adalah mendengar saran, masukan atau larangan dari warga setempat. Bisa jadi kita datang pada waktu yang tidak tepat. Penduduk tempatan yang lebih memahami karakteristik wilayahnya umumnya akan memberi saran, masukan atau bahkan melarang. Usahakan kita tidak memaksakan diri, apalagi dengan cara meremehkannya. 

Ini pengalaman pribadi saat Mendaki Gunung Ciremai melalui jalur Linggajati. Jalur paling umum untuk mencapai puncak Ciremai selain jalur Palutungan saat itu sekitar tahun 92-an. setelah menempuh perjalanan dari Jogja menggunakan kerenta ekonomi, disambung dengan baik angkot dan bus jurusan kuningan. untuk menuju Rumah Mak Emong sebagai base camp, ya jalan kaki dari jalan besar. 

Sesampai base camp dan bermalam, rencana pagi hari (hari Kamis) akan mulai trakking dan turun dari Apuy. karena pendakian bukan akhir pekan, base camp sepi. tidak ada pendaki. Namun saat mulai berkemas, Mak Emoh ditemani juru kunci mendatangiku dan minta menunda pendakian. saya pun bertanya, trus kapan bisanya kalau tidak hari ini. Kuncen tidak memberi jawaban pasti. bisa besok, lusa atau besok lusa, tergantung kondisinya nanti. Tapi jangan sekarang, kecuali siap menerima risiko?

Saya tidak banyak tanya, apa bentuk risikonya versi Kuncen. Hanya mulai menimbang-nimbang secara rasional. semua perlengkapan sudah lengkap, logistik juga siap untuk lima hari. Demikian juga kondisi fisik yang terasa fit. Egoku mulai menggeliat, apa yang perlu ditakutkan? Jika pun tersesat, bukankan ini akan menjadi bagian dari berlatih survival?

Sepertinya kuncen tahu apa yang kupirkan. Tidak banyak bicara, beliau pamit dan bilang hati-hati. Mak Emoh almarhum (Insya Allah husnul khatimah atas kebaikannya membantu para pendaki) pun tidak banyak bicara. Mungkin tahu, ini orang keras kepala -  gak bisa diomongin selain mengalami sendiri apa yang disebut dengan risiko.

Saya minta doa Mak, dan mulai berjalan perlahan. tidak lagi terpikir soal risiko yang disampaikan sang Kuncen. Menikmati langkah, deru nafas dan datak jantung. Saat memasuki kawasan Kuburuan Kuda, cuaca cerah tiba-tiba berubah gelap diselimuti kabut tebal. Jika diamati, memang berbeda polanya, dimana kabut umumnya datang perlahan untuk sampai gelap. karena kondisi mulai lelah, kondisi kabut dimanfaatkan untuk istirahat sejenak. Kabut tak kunjung beranjak dengan waktu cukup lama. Badan mulai beraksi, menggigil karena dingin. aku coba pakai jaket untuk menahan dingin dan menunggu kabut segera menipis. tak terasa, saya pun tertidur sekejap. Begitu terjaga, suasana sudah terang benderang, tidak ada sedikitpun sisa kabut. 

Saya pun melanjutkan perjalanan. masih tidak terpikir itu adalah sebuah peringatan. Kondisi cerah mengiringi langkah sampai post Pangalap. tiba-tiba, kembali kabut tebal dengan cepat menyelimuti kawasan tersebut. Gelap seperti saat di Kuburuan Kuda. Bedanya, disini hanya sebentar karena tiba-tiba kabut segera hilang dengan cepat dan kembali cerah. Saya pun tidak banyak istirahat disini, karena target mendirikan tenda rencananya di Pengasinan atau bahkan di Puncak.

Bagitu carrier mulai dipunggung dan mulai berjalan kembali. Ditanjakan Bapak Tere, tiba-tiba kabut kembali datang dengan cepat. Lebih gelap dari yang di Kuburan Kuda dan Pangalap. Ada wangi kembang dan dupa yang semakin menguat aromanya. antara sadar dan tidak, diantara kabut tebal, ada sosok yang tidak begitu jelas berpakai resi dengan janggut dan kumis yang panjang. sekalipun terlihat samar, namun tatapan mata tidak ramah jelas terlihat. Hanya melihat, tapi cukup membuat seluruh badan gemetar dan mematung. Entah berapa lama itu terjadi, tapi terasa sangat lama. sampai akhirnya tersadar dengan tiba-tiba, dan kondisi tiba-tiba cerah, sangat cerah. dan saya baru menyadari jika saya tidak lagi menggendong carrier dan telah keluar dari jalur pendakian. tepatnya dipinggiran tebing.

Setelah kesadaran kembali pulih, yang pertama kulakukan adalah menenangkan diri. Duduk bersila dan mengatur nafas dalam-dalam. Cukup lama saya mengembalikan ketentangan diri dan kembali menggunakan logika. disinilah pengetahuan dan keterampilan tentang survival dan navigasi menjadi amat bermanfaat. Awal, saya mencoba mencari bekas jalan yang tadi kulewati. paling tidak, bisa terlihat dari pohon, ranting atau daun yang tersibak. Namun, setelah diamati, tidak ada tanda-tanda aku pernah melewati dari sekeliling tempat aku berdiri terakhir dan duduk menenangkan diri.

Teringat kompas dan peta, tapi.. kedua barang itu ada di carrier. yang terakhir, tentu orientasi medan yang menjadi andalan dan mengamati tanda-tanda alam. Linggajati berada di barat gunung Ciremai. berdasarkan patokan itu, saya mencoba menentukan rute untuk kembali ke jalur pendakian. jreeennggg... ternyata tidak terlalu jauh dari jalur pendakian. saya melihat carrier merah tergeletak disana. entah, bagaimana dan kapan saya melepaskan carrier itu.

Tiga peringatan yang telah diberikan telah cukup membuat aku sadar untuk tidak melanjutkan pendakian. setelah meminta maaf dan berterimakasih secara perlahan, saya pun pamit untuk turun. terasa ringan dan sama sekali tidak terasa cape saat menuruni jalur turun pendakian. sesampai Cibunar, Sang Jurukunci menyambutku dengan senyum ramah. "Kunaon balik deui jang?" (kenapa balik lagi nak). Saya hanya tersenyum dan tak perlu menceritakan apa yang saya alami. saya hanya mengucapkan banyak terimakasih sudah didoakan dan dibantu sang Kuncen sehingga bisa kembali turun. ada obroloan pribadi yang tak perlu kuceritakan disini... hehehehehehe....

Intinya, masukan, saran atau bahkan larangan dari yang dipercaya atas gunung perlu menjadi pertimbangan. tidak perlu mencemooh jika anda tidak percaya. Paling tidak, hormati adat istiadat setempat. dan sungguh, kejadian luar biasa ini sampai saat ini terus membekas dan menjadi dasar bagi saya pribadi untuk menghormati tradisi atau adat istiadat masyarakat.

Lalu bagaimana dengan pengetahuan, skill dan perlengkapan bagi pendaki solo. ah, itu sih gak usah ditanya, karena sifatnya wajib. Kecuali anda emang memiliki rencana untuk berlatih survival betulan. namun sekalipun berniat berlatih, untuk jaga-jaga  ya tetep  perlu disiapin juga. 

Soooo, mendaki solo atau tidak, kembali ke masing-masing lagi. Asalkan syarat2nya terpenuhi. sebagaimana juga dengan pendakian berkelompok, tetap wajib memenuhi syarat utama pendakian. Kondisi sehat, bawa perlengkapan pendakian, P3K, logistik cukup sesuai waktu pendakian dengan diiringi pengetahuan dan keterampilan minimum plus jangan pernah menyepelekan masukan dari warga lokal, khususnya orang yang dipercaya memiliki pengetahuan lebih atas kawasan tersebut.      



    

Kembali Mendaki Gunung..

0 comments
Yach.. setelah absen hampir 3 tahun.. kembali keinginan untuk menjajaki ketinggian memenuhi batok kepala. Bermula kembali saat kembali mengunjungi Gunung Rinjani (3726 mdpl) di Lombok. Terakhir tahun 2010, saat berkegiatan di Provinsi Aceh. Bersama kawan2 dari TAGANA Bener Meriah, selepas pelatihan PRB Berbasis Komunitas - menjajaki indahnya Gunung Burni Telong. 

Tahun 2013, kebetulan menjadi salah satu trainer untuk kajian kerentanan iklim di Lombok, kusempatkan untuk menengkok si cantik Rinjani. Salah satu gunung yang menjadi target para pendaki karena menjadi bagian dari seven summits nya Indonesia. Gunung nan molek ini sebetulnya telah aku jajaki 2 kali, kali ini untuk ketiga.

Memang berbeda perjalanan untuk menuju ke kaki rinjani -  yang kali ini aku pilih Sembalun sebagai start awal pendakian dan kembali turun dengan jalur yang sama. Bedanya, waktu awal mendaki ke sana, saya harus menumpang kereta ekonomi dari jakarta ke banyuwangi, lanjut ke menyebrang ke Bali dan Mataram serta dilanjutkan dengan baik angutan umum dan truck, plus jalan kaki, jauh sebelum memasuki desa terakhir. Harap maklum, saat itu masih belum seramai saat ini, karena di era akhir tahun 80 an.

Pendakian ke dua, saat menjadi bagian dari anggota Pencinta Alam -  MAPALASKA IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, tahun 1993. sekalipun dari Yogyakarta tetap menggunakan kereta ekonomi, namun untuk sampai ke lokasi sudah ada angkutan khusus, pick up mitsubitsi colt. dan saat ini, karena lumayan sudah ada anggaran, plus gratis karena numpang kegiatan -  dari jakarta bisa menggunakan pesawat dan untuk sampai ke Lombok Timur menggunakan taxi.
 Paska itu, kembali mendaki menjadi candu. Usia tidak lagi menghalangi untuk kembali menjajaki gunung2 dimana aku berkunjung. Gunung Kerinci, Ranakah, Ile Apee, Binaiya, Latimojong, Kaba adalah sasaran pendakian bersamaan dengan kegiatan disana. tentu dengan memanfaatkan transport gratis karena mendapatkan mandat untuk memfasilitasi penanggulangan bencana dan perubahan iklim. sementara, gunung2 di Jawa menjadi pelepas dahaga saat keinginan tak tertahankan. Ciremai, Merapi, Merbabu, Tampomas dan Salak kembali dijajaki.

Jangan pernah memulai... jika tidak ingin kembali kecanduan. Mungkin itu yang kurasakan saat ini. Karena dampaknya, otak terus berputar untuk kembali naik dan naik. mencari sasaran baru untuk kembali naik.
Cartenz Pyramid adalah sasaran berikutnya, selain leuser di Aceh. Juga Bukit Raya di Kalimantan atau Kinabalu. selain Leuser, sebetulnya gunung2 itu pernah aku daki sepanjang tahun 90an. Namun untuk gunung tertinggi di Indonesia, cartenz pyramid -  sekalipun telah tiga kali berkunjung ke sana - namun belum diizinkan  mencapai puncaknya. Baik melalui jalur ilaga yang eksotis maupun jalur full fasilitas - pertambangan freeport. 
  
harapan besar - gunung2 tersebut masih mau menerimaku untuk kembali bertegur sapa dan bercumbu rayu.

Kembali ke gunung

0 comments
kenapa mendaki gunung? karena ia ada di sana..
sebuah pertanyaan dan jawaban yang begitu populer dikalangan pendaki gunung. Kata legendaris ini begitu ringan keluar dari mulut GL, Mallory. seorang petualang dan pendaki gunung sejati yang hilang saat mendaki everest tahun 1924.

Pertanyaan kenapa mendaki gunung menjadi pertanyaan klasik bagi sebagian besar orang yang sedikit memiliki jiwa petualang alam. Sudah bisa dibayangkan, dalam dingin dan terik, berbekal "seadanya", berjalan kaki menyusuri jalanan mendaki. belum terhitung untuk menuju kaki gunung. tidak jarang memerlukan perjuangan yang tak kalah "sengsaranya". Lalu, kenapa harus naik gunung? aneh tentunya. toh kalau hanya sekedar mendapatkan pemandangan dari ketinggian, cukup dari dataran tinggi yang bisa dijangkau oleh kendaraan. ada tangkuban prahu, puncak pas, bromo atau... banyak tempat lain.

Menjawab pertanyaan kenapa mendaki gunung begitu penting untuk dijawab. berbagai argumentasi, bahkan disertai emosi dan intimidasi pun tidak jarang dilakukan. Padahal, si penanya kadang bertanya jujur. bukan mencemooh karena si pendaki dianggap melakukan pekerjaan sia-sia. udah cape, pake keluar duit banyak pula...

secara tidak sadar, menjawab dengan sengit atas pertanyaan sederhana adalah bentuk dari sebuah kebutuhan atas pengakuan. kalau  mendaki gunung adalah sebuah kebenaran. tindakan mulia atau bahkan tindakan heroisme. ada kebanggaan tersendiri saat orang lain memberikan stempel sang pendaki gunung.

era 90-an, kebanggaan tersebut bahkan diakomodir oleh gaya atau fasyen petulang. sandal dan sepatu gunung, celana lapang/cargo, kemeja flanel plus tas punggung parasut. tidak lupa berbagai accessories berbau petualang. dari mulai gelang, kalung, jam tangan dll.
pemakainya, tidak lagi sang pendaki gunung tentunya. tapi masyarakat yang tak mengenal kaki gunung pun meramaikan style yang sedang trend tersebut.

trend fasyen satu sisi turut mendukung semakin mudahnya kita mendapatkan peralatan gunung. sebelumnya, harga peralatan gunung yang serba mahal perlahan mulai merakyat. karena mekanisme pasar mulai memainkan peran. munculnya produsen perlengkapan alam bebas memberikan banyak pilihan. ketersediaan barang yang melimpah, bahkan merk2 terkenal yang sebelumnya hanya menjadi mimpi untuk mendapatkannya, kini bersaing ketat dipasaran.

Jayagiri yang selanjutnya beralih merk menjadi dody dan alphina tidak lagi menjadi merk dominan tas punggung, kantung tidur maupun pakaian sang petualang. muncul merk eiger yang mulai menerobos dengan model2 trendy. selanjutnya mulai bermunculan merk lain seperti avtect, consina, co treck, rei dll. produk luar seperti karrimor, deuter, the north face, JW, Jeans Sport dll pun begitu mudah dengan harga yang tidak terlalu jauh berbeda dengan produk lokal.

Sebuah Langkah Awal...
Tahun 1986, adalah awal dari sebuah pengalaman baru. Saat itu aku duduk di kelas 2 SMP. entah ide dari mana, saat itu disepakati untuk jalan2 masuk hutan ujung kulon. hutan yang konon masih perawan dan menyimpan sejuta misteri. Berjuta cerita mistik menyelimuti kawasan taman nasional saat itu. dari mulai ular sebesar batang pohon kelapa, kalajengking lengan orang dewasa, lipan sebesar piring, monyet sebsar orang sampai burung raksasa. Namun konyolnya, justru cerita2 seram itu lah yang menjadi daya tarik saat itu.

ber-11 orang, kami mulai menjalankan rencana tersebut. Dengan menumpang truck, kami mulai menuju lokasi. Kami harus berganti menumpang truck yang kebetulan lewat beberapa kali untuk sampai mendekati lokasi.. dan terus bertanya tentunya setiap bertemu penduduk untuk menunjukan jalan menuju kampung bernama Cibaliung. tidak satu pun dari kami ber 11 yang pernah berkunjung ke sana. hanya cerita saja ada kampung bernama cibaliung sebelum masuk hutan ujung kulon.

setelah yakin tidak ada lagi kendaraan yang lewat, kami pun memutuskan untuk mulai berjalan kaki. saya tidak ingat, awal berjalan kaki. yang teringat adalah, semalaman kami berjalan di kegelapan malam menyusuri jalanan tanah. istirahat hanya sesaat lalu lanjut berjalan, jalan dan jalan. sampai akhirnya kami kelelahan dan tertidur dipinggir pantai. esoknya, kami melanjutkan perjalanan. tidak banyak rumah penduduk saat itu yang kami temui. karena kami mengambil jalan pintas. sampai desa terakhir menjelang pagi.

dasar tak punya pengalaman apa2. sesampai kampung terakhir, kami tidak menemui penduduk atau sesepuh desa. tapi kami langsung masuk hutan, menyusuri jalan setapak yang biasa digunakan penduduk. canda tawa terus mewarnai perjalanan kami. kami menggunakan gubug2 penduduk ditengah hutan untuk bermalam. rasa riang gembira itu terus menyertai kami sampai kami sadar, kalau kami tidak tahu lagi arah jalan. saat itu adalah hari ke 3 di dalam hutan dan berencana untuk kembali.

saat itu seluruh tim merahasiakan dariku agar aku sebagai orang paling kecil tidak panik. aku baru mengetahu kalau tersesat, setelah memasuki hari ke 5. saat bekal makanan kami habis. ajaibnya, tidak ada sedikitpun rasa panik atau cemas tidak bisa pulang. sikapku yang tenang dan tidak menjadikan "ketersesatan"ku sebagai persoalan sepertinya sangat membantu orang dewasa di timku untuk mencari jalan keluar.

rencana pun disusun. tentunya tidak didasarkan ilmu survival yang menjadi teknik dasar bagi kawan2 pencinta alam saat ini. tapi lebih ke arah insting mahluk hidup untuk tetap bertahan hidup. makanan dan air untuk minum adalah prioritas kami. dan tentu saja berdoa dan tertib menjalankan sholat agar bisa selamat kembali ke rumah.

tidak ada lagi jalan setapak. patokan kami hanya arah matahari. namun, kadang, rimbunnya pohon menutup arah matahari tersebut berada dimana. belum lagi kontur lahan yang membentuk patahanan2. siang hari adalah waktu untuk mencari jalan. menjelang malam, kami segera membangun tempat tidur di atas pohon.

Hari ke 8 kami hampir putus asa. bayangan kami adalah menjadi penghuni tetap hutan ujung kulon. menjadi pertapa atau tarzan. tidak jarang antara orang dewasa mulai bertengkar dengan berbagai persoalan. tapi selalu dapat diredam karena posisi kita yang harus tetap bersatu. Kami pun memutuskan untuk menyerahkan diri kepada Yang Maha Kuasa. tidak ngotot segera bertemu jalan, syukur2 ketemu orang yang bisa membimbing kita untuk kembali pulang.

Hari ke 12, kami mendengar suara ombak. begitu girangnya saat itu. karena bayangan akan segera bertemu kampung. bertemu orang dan tentu saja kembali makan nasi. Semak belukar kami terobos. Namun kami tidak bisa menembusnya hari itu karena hari telah kembali berganti malam. Kami pun kembali bermalam. karena tidak ada lagi senter yang bisa kami gunakan untuk menembus kegelapan malam. tidak ada lagi tempat tidur yang disiapkan untuk sedikit nyaman tidur di atas pohon. kami masing2 hanya mencari dahan yang bisa menjaga kami untuk tidak jatuh ke bawah.

Esok pagi, tidak ada lagi suara ombak yang sebelumnya terdengar begitu dekat. kami pun kembali bingung. jika itu suara "mistrius". kemapa semua orang mendengar. Kami pun seharian tidak melakukan apa2. hanya berdiam diri dan tidur2an disekitar lokasi. menjelang siang, kami putuskan untuk kembali mengikuti jalan sebelumnya. tidak melanjutkan menerbos untuk mengikuti arah suara ombak. kembali karena kami perlu air minum.

selanjutnya, kami kembali mengikuti arah matahari terbenam. perlahan menerobos lebatnya hutan. pohon tumbang dan membentuk bak benteng kompeni tidak lagi menarik perhatian. lipan sebesar jembol kaki orang dewasa tidak lagi menjadi hiburan menarik. demikian juga dengan kalajengking super besar yang kerap kami temui di sekitar tumbukan serasah saat kami istirahat.

kami tidak lagi mengenal hari atau tanggal. berjalan dan terus berjalan. lelah, istirahat. saat menjelang malam, segera kami istirahat. rutinitas itu terus kami jalani. sampai akhirnya menemukan jalan setapak yang begitu bersih. jalan setapak yang seolah2 sering dilewati orang. tidak terbayangkan, bagaimana kegembiraan kami saat itu... sampai semua orang berteriak sekuat2nya karena bayangan terselamatkan telah di depan mata.

Dengan sangat yakin, kami pun mengukuti jalan setapak tersebut. menjelang tengah hari, kami sampai ke kebun yang tertata rapih. Kami pun berlari untuk bisa mendapatkan sesuatu yang bisa di makan. Disana, ada seorang bapak tua yang sedang membersihkan kebun. dengan senyum ramah, memberikan hasil kebun kepada kami. Pepaya matang dengan ukuran yang wah. sebuah makanan mewah tentunya setelah berhari2 hanya makan daun dan garam.

setelah habis dua buah pepaya besar, si Bapak pun mengajak kami ke rumahnya. disana, telah tersedia nasi hangat dan lauk pauknya. kami pun tidak sungkan untuk menyantap makanan lezat tersebut. Banyak tua yang ditemani istri dan anak perempuannya hanya tersenyum ramah menyaksikan kami seperti kesetanan manyantap makanan tersebut.

Bapak tua itu pun menyuruh kami untuk sholat ashar. sama sekali kami tidak menunda perintah tersebut. seluruh tim sholat berjamaah. selesai sholat, kami telah disediakan kopi dan singkong rebus dengan parutan kelapa. si bapak tua maupun istri dan anaknya sama sekali tidak mau menemani kami. kami berpikir simple, mungkin tidak enak mengganggu orang kelaparan. khawatir sungkan dalam menyantap hidangan yang disediakan.

setelah semua kandas makanan yang ada, si bapak pun mendatangi kami. beliau memberikan pesan singkat. segera ikuti jalan setapak dan jangan menengok ke belakang sampai bertemu rumah pertama di kampung. pesan itu diulangnya tiga kali. setelah itu, kami diminta untuk melanjutkan perjalanan.

ada rasa heran dan ingin bertanya, kenapa? tapi kami tidak melakukannya dengan beberapa pertimbangan. dan yang palling utama, tentu kami segera sampai kampung dan pulang. kami pun berpamitan dan melanjutkan perjalanan. kami betul2 menahan diri untuk tidak melihat ke belakang. berjalan cepat, jalan dan jalan. Menjelang magrib, kami melihat rumah. Kami pun berlari untuk bisa sampai ke rumah tersebut.

Pemilik rumah tak bisa menutup keheranannya atas kedatangan kami. bersebelas orang dengan keadaan kacau balau, menjelang magrib tiba2 muncul dari dalam hutan. Namun kerawahannya mengalahkan rasa heran. tanpa banyak tanya, si empu rumah pun mempersilahkan kami masuk. meminta sang istri untuk menyiapkan makanan dan munuman.

setelah sholat isya, kami pun telah disiapkan makan malam. tidak ada pertanyaan macam2 selain menanyakan asal kami. bercerita ringan selanjutnya mempersilahkan kami untuk istirahat.

esok pagi, baru lah si bapak pemilik rumah mulai bertanya detil tentang dari mana tiba2 muncul dari dalam hutan. tujuan kami ke dalam hutan, berapa lama dll. Hal ajaib adalah, si bapak telah menebak kalau kami bertemu satu keluarga di dalam hutan. dan beliau lah yang menunjukan jalan pulang.

Kami baru sadar setelah si bapak bercerita tentang siapa sesungguhnya orang baik di dalam hutan tersebut. dia adalah penjaga hutan. dia akan baik kalau kita memiliki hati yang baik. dan akan sebaliknya kalau kita memiliki niat jahat. kami mulai merenungkan, kenapa tiba2 ada jalan. si bapak telah menyediakan pepaya yang cukup buat kami ber sebelas. sampai rumah, telah tersedia nasi plus lauk pauk yang juga cukup untuk sebelas orang. padahal, beliau hanya tinggal bertiga. dan tentu pesan untuk berjalan mengikuti jalan setapak dan tidak boleh menengok ke belakang. 
  
ke anehan2 itu begitu besar saat itu. kami pun baru tahu, jika kami melanggar pesan untuk tidak menengok, bisa dipastikan kami tidak akan lagi kembali ke dunia manusia.. dan kami memang beruntung karena kami masih dapat kembali setelah 21 hari berjibaku dalam hutan yang tidak kami kenal dengan bekal minimalis.

sesampai rumah, aku habis2an mendapatkan hadiah omelan tak berkesudahan. karena pergi tanpa pamit dan tanpa kabar. satu hari menikmati rumah, aku harus pindah tidur ke rumah sakit. saya positif terkena virus malaria. Hampir satu minggu aku terbaring disana untuk kembali pulih.

Kapok,,,, ternyata tidak. justru perjalananku yang tak terduga menjadi awal kegilaanku atas petualangan-petualangan selanjutnya......

Setelah pulih, kami dari sebelas orang itu pun kembali membuat rencana lain. Mendaki gunung. Gunung  (1.778 mdpl), Sebuah gunung yang tidak terlalu tinggi di Kab. Pandeglang -  Banten. Gunung ini pun menyimpan banyak misteri dan menjadi bagian dari cerita legenda di Banten. Sumur Tujuh adalah salah satunya yang konon hanya yang berhati bersih yang bisa melihatnya.tidak lagi bersebelas, tapi hanya tersisa 3 orang yang masih tetap memiliki keinginan untuk melanjutkan perjalanan ke tempat2 yang dahsyat... menurut kami ber-empat.

Pendakian pertama akhirnya bisa kami wujudkan menjelang ujian akhir SMP. dengan ransel tentara berukuran mini berbahan terpal, wajan kecil, penggorengan (tentu semuanya bergelantungan di luar ransel), kami mulai menapakan kaki merayapi punggungan gunung karang.

sayang, pendakian maupun perjananan di ujung kulon tak ada dokumentasinya. harap maklum, saat itu kamera dengan film masih merupakan barang mewah. peralatan hikking, jangan tanya. kami pun saat itu tidak pernah tahu kalau ada tas khusus untuk mendaki, sleeping bag, nesting, parafin dll.

baru setelah itu, aku dikenalkan peralatan pendakian milik tentara. om ku yang serdadu memberiku hadiah perlengkapan lapang setelah tahu, aku suka naik gunung dan pernah tersesat di hutan ujung kulon. nesting, kompor parafin, sleeping bags tentara, jas hujan, jaket, survival kits,  plus sepatu PDL adalah hadiah pertamaku. juga buku panduan survival dan mountaineering. tiga bulan berikut, tas jayagiri dengan frame luar pun aku dapatkan sebagai hadiah kedua. dengan satu syarat, aku harus melanjutkan sekolah ke SMA.. :-)
(saat itu aku mogok sekolah.. karena merasa bosa...)

foto 2, 3 dan 4; di ambil dari internet
 

Nasruddin, Bapak Lela Sangkuriang

4 comments

Nasruddin, Bapak Lele Sangkuriang

Selasa, 10 Mei 2011 10:12

Kecebong, anak kodok, muncul di kolam, membuat Nasrudin gembira karena dia mengira kecebong itu anak ikan lele. Kegembiraannya itu sirna dan dia tersipu malu ketika diberi tahu bahwa yang dikira anak ikan lele itu adalah kecebong. Kodok betina yang masuk ke kolam tanpa diketahui, bertelur dan menetas bersama dua indukan ikan lele betina dan seekor jantan.

Itu pengalaman pertama Nasrudin (61) sejak delapan tahun lalu saat belajar beternak ikan lele.

"Kecebong disangka anak lele. Ngerakeun pisan (sangat memalukan)," kata Nasrudin, menuturkan awal usahanya menjadi peternak ikan lele delapan tahun lalu, di Saung Pertemuan Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) Jaya Sentosa, awal November lalu. Saung itu berdiri di tepi puluhan kolam ikan lele yang terbuat dari terpal dan tembok di lahan seluas 12.000 meter persegi di Kampung Sukabirus, Desa Gadog, Kecamatan Mega Mendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Kini, dia tak lagi dipermalukan atas ketidaktahuannya. Nasrudin sudah tersohor berkat lele sangkuriang yang mulai dikembangbiakkan pada 2011. Dia mengawali usaha beternak lele dengan benih sekitar 100.000 lele sangkuriang yang diperoleh dari Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar Sukabumi. Nama sangkuriang yang diberikan itu memang diambil dari legenda Tanah Pasundan untuk menandakan lokasi asal pembiakan lele jenis tersebut.

Lele sangkuriang ini merupakan perbaikan genetik melalui silang balik antara induk betina lele dumbo generasi kedua (F2) dan jantan lele dumbo generasi keenam (F6). Induk betina (F2) berasal dari keturunan kedua lele dumbo yang diintroduksi ke Indonesia pada 1985.

Petugas penyuluh pertanian dan perikanan setempat memberikan bimbingan beternak ikan secara benar. Berkat ketekunannya, Nasrudin berhasil mengembangkan ikan lele sangkuriang.

Dia kini sudah menjadi "pendekar lele", bukan saja mahir dalam membesarkan lele dengan jurus-jurus yang jitu, tetapi juga mampu mengobati lele yang diserang penyakit, seperti radang kulit, dengan obat herbal ramuannya sendiri. Obat ini diberikan cuma-cuma kepada yang memerlukan.

"Letkol"

Sejak 2005, dia menjadi pelatih bagi kelompok dari sejumlah daerah, termasuk sejumlah karyawan perusahaan swasta dan pemerintah menjelang pensiun yang ingin beternak lele. Namanya pun sohor menjadi "Nasrudin Lele" dari Desa Gadog. Bahkan, kalangan pembudidaya lele dan warga setempat menjuluki Nasrudin dengan sebutan Bapak Letkol—akronim dari Lele Kolam yang dipelesetkan menjadi Letkol—sehingga dia kemudian disebut "Letkol" Nasrudin.

Petani lele sangkuriang dari Desa Gadog ini kini lebih jauh berangan-angan membantu pemerintah mengurangi angka pengangguran dengan memelihara lele. "Budidaya lele tidak terlalu sulit, teknologinya juga mudah dan tiga bulan sudah bisa dipanen. Masyarakat kecil bisa membudidayakan lele di halaman rumahnya. Cukup dengan lahan minim, hanya dengan luas 1 meter x 1 meter, serta modal Rp 75.000 untuk bibit dan pakan, sudah bisa beternak lele skala kecil," kata Nasrudin.

Dia tak segan-segan membagi pengetahuan memelihara lele secara benar kepada mereka yang ingin membudidayakan lele. Dia juga siap membantu mereka yang datang menimba ilmu di P4S Gadog tanpa dipungut biaya.

Sejumlah petugas penyuluh pertanian dan perikanan serta pakar perikanan pun mendukung kegiatan Nasrudin membudidayakan lele sangkuriang dan melakukan pelatihan. Dukungan ini membuat Nasrudin bersemangat dan bertambah yakin akan angan-angannya untuk menjadikan Desa Gadog sebagai sentra budidaya lele sangkuriang.

Bahkan, 7 September lalu, Nasrudin diangkat menjadi Ketua Gabungan Kelompok (Gapok) Budidaya Ikan Lele Sangkuriang "Cahaya Kita" untuk wilayah tengah Provinsi Jabar dengan pusat aktivitas di wilayah Kabupaten/Kota Bogor.

1,5 juta benih

Nasrudin yang puluhan tahun sebagai petani padi dan kemudian beralih menjadi pembudidaya lele ini, bersama kelompok pembenih lele sangkuriang yang tergabung dalam Gapok Cahaya Kita, ingin memproduksi sekitar 1,5 juta benih lele sangkuriang setiap bulan untuk memasok anggota kelompok budidaya lele sangkuriang yang saat ini berjumlah sekitar 50 orang.

Dengan produksi benih sebanyak itu, kelompok budidaya/pembesar ikan lele sangkuriang diharapkan mampu memenuhi sebagian kebutuhan lele di wilayah Jakarta. Adapun kebutuhan lele di wilayah Jabotabek diperkirakan sekitar 75 ton sehari. Pemasoknya bukan saja berasal dari petani lele Jabar, tetapi juga dari Jawa Tengah.

"Saat ini boro-boro memasok ke Jakarta, untuk memenuhi kebutuhan konsumen di wilayah Kota/Kabupaten Bogor saja kekurangan. Kami peternak lele sangkuriang di daerah Gadog dan sekitarnya, meliputi Kecamatan Ciawi, Megamendung, dan Cisarua, baru mampu memproduksi sekitar 3 ton per hari dari kebutuhan sekitar 10 ton," kata "Letkol" Nasarudin. Dari kolamnya sendiri, Nasrudin baru mampu memasok sekitar 2 ton per minggu kepada pelanggannya. Lele sangkuriang dijual Rp 10.500-Rp 11.000 per kilogram.

Masa depan budidaya lele cukup cerah. Apalagi, menurut Muhamad Abduh Nur Hidayat, anggota staf Ditjen Perikanan Budidaya Departemen Kelautan dan Perikanan, ikan lele akan dijadikan komoditas ketahanan pangan. Konsepnya kini sedang disiapkan. Ikan lele saat ini sudah digemari oleh kalangan bawah sampai atas. Bahkan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga sempat mempromosikannya dengan menikmati ikan lele di kampung lele Boyolali, Jateng, tahun 2007.

Andil pedagang tenda pecel lele di Jabotabek dan daerah lainnya cukup besar dalam meningkatkan produksi ikan lele. "Sekarang lele juga dijual di restoran, bahkan sampai ke daerah Kalimantan Barat yang dulu tak suka ikan lele," kata Muhamad Abduh Nur Hidayat, penasihat Gapok Cahaya Kita.

Lele sangkuriang yang dirilis sebagai varietas unggul oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Rokhmin Dahuri pada 2004 ini lebih cepat dipanen dibandingkan jenis ikan lainnya dan tahan penyakit. Ukurannya lebih besar dibandingkan lele jenis lain. Dua bulan sudah bisa dipanen. Rasa dagingnya juga lebih gurih dibandingkan lele jenis lain. "Karena itu, tak heran kalau lele sangkuriang disukai konsumen," kata "Letkol" Nasrudin.(kompas.com)


KETIKA RINDU ITU DATANG...

27 comments
Kenapa naik gunung? karena dia (gunung/puncak) ada di sana.
Jawaban atau kalimat itu melegenda dan menjadi kata-kata "sakti" para penggemar mendaki gunung. bahkan diberkembang bagi kegiatan2 alam bebas lainnya. Kalimat jawaban itu mungkin muncul secara spontan dari seorang George Herbert Leigh Mallory, yang menutup mata untuk selamanya pada kebekuan The North Face - Mount Everest, 8-9/6/1924.

Mallory is famously quoted as having replied to the question "why do you want to climb Mt. Everest?" with the retort: "because it's there", which has been called "the most famous four words in mountaineering". Recently some questions have been raised regarding the authenticity of that quote, and whether Mallory had actually said it, with a possibility the quote was invented by a newspaper reporter

Bagi pecandu naek turun gunung, gunung-gunung yang bertebaran di muka bumi ini adalah magnet. bertambahnya usia, kesibukan atau apapun.. tidak bisa menghapus rasa rindu dan keinginan untuk kembali... mendaki.. menghirup udara segar pegunungan.. menikmati aroma tanah berhumus atau nyanyian angin. Puncak gunung itu.. terus melempar senyum, melambai dan menggoda. Tinggal, sebarapa para "pensiunan" pendaki gunung kuat menahan gejolak hatinya... Untuk kembali packing seluruh kebutuhan pendakian dalam Carrier.

Sumedang, Juli 2007
Gunung Tampomas (1.684 mdpl) begitu anggun sekalgus angkuh. Nama gunung itu begitu terkenal pada tahun 1981, tepatnya 27 Januari bersamaan dengan bencana tenggelamnya sebuah kapal penumpang yang menggunakan nama gunung di Kabupeten Sumedang - Jawa Barat. Tampomas II, terbakar dan tenggelam di Kepulauan Masalembo. Tragedi memilukan akibat kelalaian management transportasi yang menyebabkan ratusan putra bangsa meninggal ini menyeret Iwan Fals berceloteh lewat bait syairnya yang tajam.. celoteh camar tolol dan cemar..

Untuk ukuran gunung buat kegiatan mendaki, Tampomas tidak begitu menantang. Ketinggian sebuah gunung kerap menjadi ukuran para penggiat pendaki untuk memasukan ke dalam list "harus di jajal". dan Tampomas sebuah gunung "kerdil" dengan ketinggian di bawah 2.000 mdpl. apa menariknya??? wal hasil, tidak begitu banyak para pengejar "puncak" menjajal track dan menggapai puncaknya.

Senyum manis dan lambaian tampomas terlalu ramah. Menyapa dan menebar pesona setiap kaki mulai memasuki kampung halaman, di Kaki gunung ini. Rutinitas kerja dan berkeliling antar pulau membuat rindu menjajaki jalan setapak diantara hijau dedaunan hutan kian akut. Let's climbing.. go track.. go to the top..

Memasuki masa liburan sekolah dasar, lambayan ramah sang gunung pun dipenuhi. sekaligus memenuhi keinginan si sulung untuk mengijak atap bumi. Berenam, aku mulai memenuhi rasa rindu akan gunung. Menghitung mundur, terakhir mendaki gunung Merapi, tahun 2002. artinya, lima tahun telah terlewati memendam rasa rindu akan mendaki gunung.

Kawasan konservesi yang memprihatinkan
Pendakian dimulai dari TPA (tempat pembuangan akhir) sampah. sepanjang jalan menuju post 1, bertebaran lubang2 dari si tangan besi "begho" yang mengeruk tambang galian C. tak jelas.. mana batas kawasan hutan lindung kawasan hutan gunung Tampomas.

TPA sampah ditempatkan di ketinggian.. berdampingan dengan hutan lindung.. dibawahnya.. mesin desel dari beegho tak pernah berhenti. mengeruk pasir dan batu untuk kebutuhan pembangunan fisik tanpa henti.... sepanjang hari.

Bisa dibayangkan, dampak sampah yang ditempatkan pada dataran tinggi bagi kehidupan dibawahnya. pencemaran... apalagi, management sampah di negeri ini, tidak memilih sambah jenis berbahaya dan beracun, organic maupun anorganic. pencemar itu meresap ke dalam tanah.. menguap mencemari udara dan juga terbawa air hujan, menyatu dengan air permukaan yang menjadi sumber kehidupan warga di kawasan bawahan.

sementara, tambang2 pasir tanpa kontrol yang jelas.. merusak bentang alam dan ekosistem kawasan. pada beberapa dusun, secara nyata telah menyebabkan kelangkaan air bersih. Bahkan pada musim kemarau, air pun menjadi barang mahal. satu kasus tragis pun terjadi.. salah satu warga harus meregang nyawa akibat berebut mengairi sawahnya. Kelangkaan air yang tek pernah terjadi sebelumnya. Belum lagi debu2 yang setia menyelimuti perumahan penduduk bersamaan sang truck berbadan besar pengangkut pasir melintas perkampungan. Kerusakan jalan.... akibat jalan yang tak sanggup menerima beban kendaraannya.

Menuju Puncak
perjalanan menuju pucak gng Tampomas sedikit menjemukan. Deretan pohon di dominasi tanaman monokultur, Pinus. Menjelang puncak, baru hutan alam dapat ditemui. dimulai dari tanaman pakis bertubuh bongsor. dan berbagai tanaman khas dataran tinggi (hutan tropis pegunungan) satu persatu mulai memarkerkan keperkasaannya; jamuju (podocarpus imricatus), saniten (castanea argentaea), rotan (calamus sp), Kadaka (Dryanaria sp), rasamala (altingia excelsea) dll.
Begitu indah.. begitu sempurna. Hutan tanpa campur tangan manusia dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Kesempurnaan alam dengan bumbu nyanyian riang satwa liar.

sanghyang lawang.. sanghyang taraje.. dan beberapa nama khas sunda bisa memaksa bulu kuduk berjingkrak. segenap cerita mistik bertebaran di kampung bawah. tentu semakin lengkap dengan berbagai sesaji yang berserakan di beberapa tempat yang dianggap kramat.

Menjelang puncak.. goa akibat proses erupsi gunungapi ratusan tahun lampau menyeringai. selamat datang hai manusia angkuh... begitu kira2 sang goa bergumam. jaga sisa hutan ini dengan tanganmu.. lindungi dengan segenap kemampuanmu..

tiga ratus meter dari puncak utama gng tampomas, terdapat makam tua. Makan yang dipercaya sebagian orang sebagai makan asli Prabu Siliwangi dan pengikutnya. Namun, ada juga yang mempercayai, makan kramat itu merupakan tempat peristirahat sang penyebar Islam di tatar sunda. entah lah... yang jelas, di areal pemakaman tersebut cukup banyak tenda darurat yang digunakan para pencari kesaktian dan pencari kekayaan.

Rindu itu kembali datang...
setelah turun dari gunung itu.. kerinduan untuk mendaki gunung tidak lah sirna. justru sebaliknya.. semakin menggebu.. lagi.. lagi.. and lagi
Mulai lah bersama si sulung, Sodya Yadyaunnajabah (Dea), mulai melist gunung mana yang kira2 akan dijadikan sasaran berikutnya. Merapi, Lawu dan Semeru adalah target berikutnya yang akan kami daki.

di hati kecil.. Gunung Leuser adalah obsesi. Gunung yang memang tidak banyak orang mendapatkan keberuntungan sampai ke puncaknya. Bukan karena tinggi gunung ini, tapi karena perjalanan yang membutuhkan waktu lama. dan tentu saja keamanan yang tidak di jamin.

Gunung Burni Telong Di Bener Meriah pun memamerkan tubuh indahnya.. let's climb me..









perempuan perkasa itu....

0 comments
"yan... pun (sudah) sholat???, jangan menunda waktu sholat, awal waktu!!!" kata mengingatkan dari sang perempuan paling perkasa itu masih terngiang lekat di otakku. terpatri kuat dan permanen menembus alam dunia fana ini. dia sang perempuan paling mulia... yang tak pernah lelah mengingatkan semua anak-anaknya untuk tetap menjalankan perintah-Nya.

Kata2 itu begitu lekat.. namun kerap kuabaikan... entah karena kesibukan mengerjakan sesuatu, atau hanya karena malas beranjak.. Kata-kata itu kembali datang.. menghantam pikiran bak palu godam.. sholat, ngaji, dan jaga persaudaraan.. adalah tiga kata yang kerap diulang-ulang...

Kalau bisa, mengajarlah... ajarkan ilmu kepada orang lain yang membutuhkan.. mengajar ngaji, atau apapun.. adalah pekerjaan paling mulia..

Tiga puluh satu tahun yang lalu, tepatnya 1977, sang perempuan perkasa itu harus menghadapi kenyataan.. mengemban amanat membesarkan anak-anaknya dan...... memastikan semuanya sekolah. SEORANG DIRI. Sang suami tercinta, harus meninggalkan beliau mengarungi kehidupan dunia fana... menemui Sang Khaliq

enam anak, yang semuanya masih menempuh pendidikan bukan lah beban yang ringan. dua orang telah memasuki perguruan tinggi di Jogjakarta, dan 4 sisanya masih duduk di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama..

Entah... apa yang ada dibenak sang perempuan perkasa itu.. untuk menjaga tekad, membawa amanah.. Ilmu adalah bekal yang terbaik untuk kehidupan, mungkin itu yang menjadi dopping dalam menjaga semangatnya tetap menyala. rupiah demi rupiah dikumpulkan.. untuk anaknya agar terus bisa tetap sekolah.

Tahun demi tahun.... berganti. Sampai amanah tersebut terlaksana sempurna. Enam anak2nya pun dapat menyelesaikan sekolah. Sarjana... dan 4 diantaranya dpt meraih master dan bersiap memasuki doktor. Tak terbayang... bagamiana system pengelolaan kehidupan dilakukan dengan sempurna.. hanya seorang diri.

sang perempuan perkasa itu... tak berdaya menghadapi usia..
namun, tugas berat menjalani kehidupan.. mengantarkan putra - putrinya memasuki gerbang kehidupan real telah sempurna dilakukan. sangat sempurna...

Senyum bangga.. tak pernah pudar. senyuman itu pun abadi sampai sang perempuan perkasa itu menghembuskan nafas terakhirnya.... Kamis, 29 Januari 2009 pukul 16.00 wib. Tak putus menyebutkan Asma Allah... tak putus menjalankan ibadah... tak putus tetap mengingatkan anak2nya... saudara2nya untuk teguh menjalankan perintah Tuhan...

Jogjakarta, 5 Februari 2009


dari sang anak

PAK OGAH DAN KREATIFITAS SURVIVOR

0 comments
Sumedang - Garut - Tasik, perjalanan yang cukup melelahkan juga. Tapi, lebih melelahkan ketika melihat fenomena yang mungkin sudah biasa. Ya, tidak kurang dari 15 titik kita akan bertemu Pak Ogah. Inget film Unyil kan sekarang lagi diputer lagi di stasiun TransTV. Film anak2 yang dulu sangat populer di tahun 80-an. Pak Ogah yang selalu minta "cepe", setiap diminta jasanya.

Fenomena Pak Ogah tiba2 mencuat ketika muncul fenomena pemuda yang mencoba bergaya polisi mengatur lalu lintas. Imbalan "cepe" dari sang sopir lah yang menyebabkan jasa menyebrangkan kendaran dari jalan atau gank oleh segerombolan pemuda dilekatkan dengan pak ogah. Awalnya hanya diperkotaan, dengan padatnya kendaraan bermotor. Namun, tiba2 di pedesaan pun fenomena pak ogah pun ada, khususnya di jalan raya.

Gaya pengaturan lalu lintas yang seharusnya menjadi tugas Polisi Lalu Lintas dan Instansi Perhubungan pun semakin berkembang. tidak lagi hanya per-empat-an jalan dijadikan daerah operasi, tapi juga ditikungan tajam, tanjakan curam, jalan rusak atau longsoran. Bahkan dijalanan sepi yang dianggap angker, kerap pula dijadikan operasi pak ogah.

Sungguh memprihatinkan. sedemikian sulitkan mata pencaharian didapat di Negeri yang konon makmur. Subur dan kaya raya. Sehingga group legendaris Koes Plus pun menorehkan tintanya dan merangkai nada : "Bukan lautan hanya kolam susu. Kail dan jala cukup menghidupimu. tiada badai tiada topan kutemui. Ikan dan Udang menghampiri dirimu". Negeri yang dikenal juga sebagai zambrud katulistiwa. Tapi mengapa fenomena pak ogah begitu merata. tidak hanya pemuda, tapi juga anak2 kecil dan orang tua. mengharap keridoan pengguna jalan melemparkan uang logam.

begitu parahkah pengangguran kita, atau memang jiwa pengemis bangsa ini telah sangat parah? Apakah tanah negeri ini tidak lagi dapat menghasilkan sesuatu untuk menghidupi secara layak. sehingga, mengemis menjadi pilihan untuk menambah pendapatan? tidak hanya pak ogah, anak2 jalanan pun semakin banyak. Pengemis-pengemis dengan beragam gaya pun hadir menghiasi kehidupan.

Tidak ada kah mata pencaharian yang layak buat anak2 negeri ini. Tidak cukupkah ruang-ruang untuk berusaha. Atau, memang anak negeri ini pemalas. lebih suka meminta2 untuk bisa mendapatkan sesuatu. Seperti para pemimpin negeri ini yang lebih banyak meminta dari pada memberi. Kalaupun dalam sumpah jabatannya.. akan mengabdikan jiwa dan raga untuk bangsa ini.. puiiiihhhhh....

GENESIS GERAKAN MAHASISWA 1998, Marsudi 2003

115 comments
ini saduran dari http://mashudi.blogdrive.com/archive/5.html
marik banget sih.. jadi aku masukin aja deh... siapa tahu ada yang perlu untuk berbagai kepentingan...

salam

Monday, March 06, 2006
GENESIS gerakan mahasiswa 1998
(c) mashudi 2003

Sejarah perkembangan Gerakan Mahasiswa (GM) di Indonesia selalu menarik karena tidak dapat dilepaskan dengan sejarah perkembangan negara Indonesia. Bahkan, keberadaan GM selalu berpengaruh pada situasi politik nasional. Meskipun sudah berkali-kali "diberangus" oleh penguasa di setiap jamannya, GM selalu muncul dengan sikap kritis dan tuntutan untuk memperbaiki keadaan politik nasional.
Secara historis, peran GM dalam perubahan politik di Indoensia sangatlah besar. Misalnya, perubahan kekuasaan dari rejim Orde Lama ke rejim Orde Baru pada tahun 1965, peran GM sangat besar dalam melegitimasi kekuasaan Sukarno. Begitu pula pada tahun 1998, tanpa kehadiran ribuan GM di gedung MPR/DPR, sangatlah sukar untuk membuat Soeharto mundur dari jabatan presiden. Bahkan, jika dilihat jauh ke belakang, peran GM lah yang membidani lahirnya negara Indonesia. Sebagai misal adalah didirikannya Boedi Oetomo pada 1908, yang meskipun bersifat primordial etnik, organisasi GM pertama di Jawa ini telah berhasil memberikan semangat kepada mahasiswa dan pemuda lainnya untuk bercita-cita merdeka.
Diskusi mengenai GM mahasiswa di Indonesia penuh dengan dinamika, karena selalu mengalami perubahan karakter dan bentuk pada setiap jamannya. Soewarsono (1999: 1) menyebut bahwa sejarah awal Indonesia moderen tentang GM memiliki empat "tonggak", yaitu "angkatan 1908", "angkatan 1928", "angkatan 1945" dan "angkatan 1966". Selanjutnya, Soewarsono menyebut bahwa keempat angkatan tersebut adalah generasi-generasi dalam sebuah "keluarga", yaitu sebuah catatan-catatan prestasi "satu generasi baru" tertentu.
Masing-masing dari keempat angkatan di atas memiliki bentuk dan karakter serta relasi-relasi dengan kelompok yang lain yang khas dibanding angkatan-angkatan yang lain. Namun, tidaklah dapat dikatakan bahwa tiap-tiap angkatan tersebut selalu membawa perubahan dan kemajuan bagi jamannya. Tetapi, tiap-tiap angkatan tersebut dapat pula menjadi pengekor atau epigon yang menerima melalui pewarisan (Soewarsono, 1999: 1-2). Dengan demikian, diskusi mengenai GM di Indonesia, tidak selalu berbicara mengenai perubahan yang positif, tetapi juga dapat sebaliknya. Hal ini tergantung dengan konteks situasi dan relasi-relasi yang dibangun oleh GM itu sendiri.
Selain keempat angkatan tersebut, terdapat satu angkatan generasi lagi yang paling mutakhir dan sangat bepengaruh tidak hanya pergantian politik kekuasaan saja, tetapi juga pada proses demokratisasi di Indonesia, yaitu "angkatan 1988". Pada angkatan ini, GM telah berhasil menjatuhkan kekuasaan Presiden Soeharto yang sebelumnya telah berkuasa selama 32 tahun. Selain itu, GM juga mempengaruhi munculnya wacana demokratisasi dan civil society. Meskipun demokrasi dan civil society secara relatif belum sepenuhnya berhasil diterapkan dalam realitas politik di Indonesia, namun peran GM telah menyebabkan proses-proses tersebut dapat dimulai.
Tulisan ini akan mendiskusikan tentang GM angkatan 1998 dengan menggunakan pendekatan prosesual. Pendekatan ini akan melihat keragaman dan kesamaan antar kelompok GM, perubahan-perubahan karakternya dan strategi-strategi yang digunakan untuk melawan rejim penguasa serta kontinyuitasnya. Proses dan peristiwa-peristiwa dari suatu fenomena sosial merupakan suatu rangkaian yang saling berkesinambungan. Pemahaman tentang kondisi-kondisi yang memungkinkan berlangsungnya relasi-relasi antara peristiwa satu dengan peristiwa lain merupakan bagian dari penjelasan yang harus dilakukan (Winarto, 1999). Untuk itu, suatu kajian tentang proses harus mampu menunjukkan hubungan yang berangkai dari satu peristiwa ke peristiwa yang lain, dengan keterkaitan satu sama lain (Winarto, 1999).
Selain itu, pendekatan ini juga menekankan adanya perbedaan (difference). Konsep-konsep mengenai emosi, agen, gender dan tubuh individu, secara kultural telah dibentuk melalui perbedaan-perbedaan. Dalam artikelnya yang berjudul "Theories of Culture Revisited", Keesing (1994) menyatakan bahwa selayaknya teori kebudayaan yang dikembangkan tidak akan membuat asusmi-asumsi dengan batas-batas yang tertutup, tetapi biarkan dia memberikan konsep-konsep yang kompleks dan beragam.
Aspek lain yang perlu ditekankan dalam pendekatan ini adalah memotret adanya dinamika suatu kelompok masyarakat. Kebudayaan mempunyai karakter yang dinamis dan selalu mengalami perubahan. Untuk itu, antropolog hendaknya menekankan bagaimana mekanisme dan proses yang berlangsung dalam suatu kelompok masyarakat, hingga hal-hal tersebut dimiliki bersama atau tidak, vice-versa (Winarto, 1999: 26).
GM 1998
GM telah menjadi faktor yang sangat menentukan dalam perubahan kekuasaan dari rejim Orde Baru Soeharto ke rejim yang konon katanya "reformasi". Ribuan mahasiswa yang menduduki gedung DPR di senayan pada bulan Mei 1998 telah membuat anggota dewan tidak dapat bekerja secara efektif. Sehingga tidak ada pilihan lain bagi anggota dewan untuk memenuhi tuntuan mahasiswa melengserkan Soeharto dari jabatan presiden. Peristiwa tersebut bukanlah peristiwa yang pertama kali dalam sejarah perubahan kekuasaan di Indonesia. Pada tahun 1965, GM juga telah berhasil memelopori perubahan kekuasaan dari rejim Sukarno ke rejim Orde Baru Soeharto. Sebelumnya, pada 1945, peranan mahasiswa dan pemuda sangatlah penting sehingga Sukarno bersedia membacakan teks proklamasi.
Keberadaan GM tidaklah taken for granted yang tiba-tiba muncul begitu saja. Perkembangan GM selalu berkaitan erat dengan situasi sosial dan politik, dimana ia merupakan respon dari ketidak-beresan situasi sosial dan politik yang menurut mereka tidak adil. GM akan selalu bergerak dan terus bergerak jika melihat kekuasaan yang menindas rakyat. GM ini sangat sulit untuk dibendung gerakannya, meskipun sudah dilarang oleh penguasa. Sebagai misal adalah GM 1998, yang sejak tahun 1978 telah "ditertibkan" oleh Orde Baru melalui serangkaian regulasi yang membuat GM sulit bergerak. Namun, ternyata GM selalu terus bergerak dengan strategi yang justru lebih kreatif. Berikut ini adalah sejarah kehadiran GM 1998 serta serangakan strategi yang digunakannya.
Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK).
Peristiwa penting yang patut dicatat dalam sejarah GM 1998 adalah kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K), Dr. Daoed Joesoef. Nomor: 0156/U/1978 tentang Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK). Kebijakan ini dianggap telah mematikan GM karena membebani mahasiswa dengan serangkaian kewajiban kuliah dan melarang kegiatan politik di kampus. Pada intinya kebijakan ini adalah menjustifikasi pembubaran dan dihilangkannya organisasi mahasiswa yang selama ini merupakan sarana demokratis mahasiswa berdasarkan prinsip-prinsip pemerintahan mahasiswa (Harahap dan Basril, 1999: 55). Sebelumnya, lembaga kemahasiswaan merupakan sarana untuk menentang kebijakan pemerintah maupun perguruan tinggi. Dengan dibubarkannya lembaga pemerintahan kampus, pemerintah Orde Baru berharap GM tidak lagi turun ke jalan untuk melakukan demonstrasi politik.
Dikeluarkannya kebijakan NKK ini merupakan respon pemerintah atas serangkain peristiwa demonstrasi yang dilakukan oleh GM pada tahun 1973-1978. Terutama setelah peristiwa Malapetaka 17 Januari 1974 (Malari 1974), GM diawasi secara ketat.2 Pemerintah telah mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 028/1974 yang dianggap membatasi aktivitas GM.
Antara tahun 1975-976, protes yang dilakukan oleh GM terhadap kebijakan pemerintah Orde Baru sedikit mereda. Namun, setelah pemilu tahun 1977, gelombang aksi meningkat lagi. Di Jakarta, mahasiswa UI kembali melakukan aksi memprotes pelaksanaan pemilu yang dianggap tidak adil, karena pihak birokrasi dan militer dianggap memihak ke Golkar. Mereka mengganggap tidak sah dan menolak kemenangan Golkar pada pemilu 1977. Aksi serupa juga terjadi di beberapa daerah, misalnya di Bandung, mahasiswa ITB membentuk Gerakan Anti Kebodohan (GAK), di Yogyakarta, mahasiswa UGM mengusung "keranda matinya demokrasi", bahkan di Surabaya, sejumlah mahasiswa terlibat bentrok dengan aparat keamanan.
Peristiwa penting yang patut dicatat adalah ketika ketua Dewan Mahasiswa (DM) UI, Lukman Hakim berhasil mengadakan pertemuan 67 DM dan Senat Mahasiswa (SM) se-Indonesia dengan menggunakan dana kegiatan mahasiswa yang berasal dari SPP. Peristiwa tersebut telah membuat khawatir penguasa. Sanit (1999: 58) menuliskan kekhawatiran pemerintah dengan mengutip pernyataan Soedomo sebagai berikut:
"…Staf Komando Soedomo menyatakan bahwa secara sistematis melalui DM, mahasiswa telah melawan hukum dan konstitusi; mahasiswa telah menggunakan disksui untuk membangun opini untuk mengganti kepemimpinan nasional; tuduhan melalui Ikrar Mahasiswa tanggal 28 November di Bandung bahwa presiden telah menyeleweng dari UUD 1945 adalah melawan kekuasaan MPR; kedatangan DM se-Indonesia ke MPR untuk menyatakan ketidakpercayaan kepada lembaga itu pada tanggal 7 Januari 1978 merendahkan lembaga itu;.."
Segera setelah Soedomo mengeluarkan surat pernyataan tersebut, beberapa tindakan represif diambil oleh pemerintah Orde Baru. Sejumlah kampus diduduki oleh militer dan beberapa koran seperti Kompas, Sinar harapan, Merdeka, Pelita, Indonesian Times, Sinar Pagi dan Pos Sore dilarang terbit (Sanit, 1999: 58). Selanjutnya, untuk menunjukkan sikapnya terhadap GM tersebut, pemerintah melalui Menteri P dan K, Dr. Daoed Joesoef mengeluarkan keputusan Nomor: 0156/U/1978 tentang Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK). Kemudian, di bidang penyelenggaraan pendidikan tinggi, Menteri P dan K juga mengeluarkan SK No. 0124 yang memberlakukan Sistem Kredit Semerter (SKS) dengan mekanisme mengajar dan belajar terprogram secara intensif. Konsekuensi dari kebijakan tersebut adalah mewajibkan mahasiswa menyelesaikan sejumlah beban studi untuk setiap semester yang secara keseluruhan terdiri dari 8 sampai 12 semester untuk jenjang S-1 (Sanit, 1999: 59-60).
Akibat dari kebijakan tersebut telah membuat aktivitas politik GM menjadi berkurang. Selain harus menyelesaikan beban studi ang berat, ketatnya pembinaan non akademik mahasiswa telah menyebabkan terbatasnya waktu mahasiswa untuk melakukan gerakan-gerakan kritik terhadap pemerintah. Selain itu, pemerintah juga melakukan "pembinaan ideologi" terhadap mahasiswa melalui penataran P-4 (Pendidikan, Penghayatan dan Pengamalan Pancasila).
Kelompok Diskusi dan Pers Mahasiwa
Serangkaian tindakan represif dan kebijakan yang dilakukan untuk meredam GM ternyata sangat efektif. Dapat dikatakan bahwa sejak tahun awal 1980-an, aktivitas GM mulai surut. Namun, keadaan tersebut tidak berlangsung lama. Untuk menghindari tindakan represif dari rejim Orde Baru, mahasiswa merubah strateginya. Mereka tidak lagi berteriak turun ke jalan, tetapi dengan membentuk kelompok-kelompok studi (KS) sebagai cara merespon dan mengekspresikan kekecewaannya kepada penguasa. Pada tahun 1983, beberapa mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara membentuk Kelompok Studi Proklamasi (KSP) yang bermarkas di jalan Proklamasi. KS ini kemudia diikuti oleh mahasiswa dari UI, IAIN, Unas dan IKIP Jakarta. Diskusi yang biasanya diselenggarakan pada Minggu siang mendiskusikan topik ekonomi dan politik.
Setelah KSP, di Jakarta muncul Kelompok Studi Indonesia (KSI), Lingkaran Studi Indonesia (LS), Indonesian Students Forum for International Studies (ISAFIS), KS Pena dan lain-lain. Kemudian, di beberapa kota lainnya lain juga muncul fenomena yang sama: di Bandung muncul KS Thesa, KS Free School for Socio-Analysis; di Yogyakarta muncul KS Palagan, KS Teknosofi, KS Girli, KS F-16; di Surabaya muncul Kelompok Diskusi Surabaya dan Kelompok Analisa Sosial.
Selain membentuk KS, GM di beberapa kampus juga mengaktifkan penerbitan kampus atau pers mahasiswa (persma). Beberapa media yang lahir pada masa pertengahan 1980-an adalah: majalah Suara Mahasiswa di UI; majalah Balairung di UGM: majalah Arena di IAIN Yogyakarta dan majalah Himmah di UII; majalah Opini dan Manunggal di Undip; dan majalah Dialogue di Unair. Meskipun diterbitkan dengan cara yang sederhana dan oplah yang terbatas, kehadiran majalah kampus ini sempat menjadi media alternatif mengenai berita-berita sosial dan politik yang tidak dimuat di media umum nasional dan lokal.
Munculnya KS dan persma tidak lantas membuat mahasiswa berpuas diri. Sebagian dari mereka masih merasa kurang puas hanya dengan melakukan diskusi dan menulis. Mereka tetap mencari cara lain yang lebih efektif untuk menunjukkan kepeduliannya terhadap ketidakadilan sosial dan politik. Salah satu alternatifnya adalah membentuk Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Namun demikian, aktivitas LSM ini benar-benar dilakukan di luar kampus, yaitu bermarkas di luar kampus dan bekerja tidak mengatasnamakan diri sebagai mahasiswa.
Badan Koordinasi Mahasiswa (BKM)
Masih tidak puas dengan bentuk-bentuk aktivitas yang sudah dilakukan di atas, GM kembali membentuk jaringan lebih yang lebih luas. Di Bandung muncul Badan Koordinasi Mahasiswa Bandung (BKMB) dan Badan Koordinasi Mahasiswa Jakarta (BKMJ). Pembentukan komite-komite ini merupakan realisasi dari apa yang menjadi topik-topik diskusi sebelumnya. Mereka merasa bahwa berdiskusi saja tidak cukup, untuk itu mereka membentuk jaringan aksi untuk membentuk solidaritas antara mahasiswa. Jaringan aksi tersebut merespons isu-isu yang dianggap tidak adil bagi rakyat.
Salah satu jaringan yang melibatkan mahasiswa di beberapa di beberapa kota seperti Salatiga, Yogyakarta, Semarang, Bandung dan Jakarta adalah Kelompok Solidaritas Korban Pembanguan Kedung Ombo (KSKPKO). Kelompok ini melakukan advokasi terhadap warga korban penggusuran pembangunan waduk di Kedung Ombo, Boyoloali Jawa Tengah dengan mengadakan aksi di kantor Depdagri, Jakarta dan di depan kantor Kodim Boyolali pada 24 Maret 1989.
Isu lain yang cukup menonjol adalah kasus tanah Kacapiring, Jawa Barat. Di Bandung, aktivis Bandung dan Kelompok Mahasiswa Jakarta (KMJ) melakukan aksi dialog dengan walikota Bandung. Aksi ini berakhir dengan bentrok dan 33 mahasiswa ditahan. Kemudian pada 12 April 1989, sekitar 3000 mahasiswa dari Jakarta dan Bandung aksi di depan kantor Poltabes Bandung untuk menuntut pembebasan rekan mereka yang ditahan. Selanjutnya, pada 17 April 1989 mahasiswa melanjutkan aksi di kampus ITB dengan isu yang sama.
Pada akhir tahun 1980-an, GM ditandai dengan tumbuhnya komite-komite rakyat yang menjadi bentuk organ dan jaringannya. Antar kelompok GM di berbagai kota saling berkomunikasi dan saling mengunjungi untuk membangun solidaritas. Salah satu bentuk solidaritas adalah bentuk aksi dukungan suatu kelompok GM terhadap aktivitas yang dilakukan kelompok GM di kota lain. Mereka ini selalu sharing mengenai isu-isu sosial dan politik paling mutakhir. Pola-pola semacam ini terus dikembangkan di beberapa wilayah. Mereka semakin memperkuat jaringan dan solidaritas tidak hanya antar universitas di dalam kota, tetapi juga antar kota.
Setelah menjalani masa-masa "bersama", antar kelompok GM mulai terlihat tidak sejalan. Terutama pada tahun 1990-1993, terdapat kecenderungan bubarnya aliansi dan terbentuknya aliansi baru (Gayatri, 1999: 91). Antar kelompok GM tampaknya tidak selalu sejalan, baik dalam hal pemilihan isu maupun pemilihan kelompok mana yang dapat diajak aliansi. Perpecahan ini lebih disebabkan karena egoisme kelompok dan selebihnya ideologi serta pilihan aksi. Egoisme tampak ketika mereka masih mempersoalkan primordialisme universitas sebagai acuan aliansi GM. Misalnya, di Bandung kelompok GM terpecah menjadi dua, yaitu antara kelompok GM dari ITB dengan kelompok dari Unpad.
Perbedaan ideologi dan pilihan bentuk aktivitas tampak terjadi di Jakarta dan Yogyakrta. Gabungan antar KS, persma dan LSM yang telah menghasilkan Forum Komunikasi Mahasiswa Yogyakarta (FKMY) terpecah menjadi dua kelompok. Perpecahan ini berbaringan dengan perpecahan GM di Jakarta yang juga terpecah menjadi dua. FKMY terpecah menjadi Dewan Mahasiswa dan Pemuda Yogyakarta (DMPY) dan Serikat Mahasiswa Yogyakarta (SMY). DMPY yang berasosiasi dengan kubu Skephi di Jakarta, yang menonjol dengan gaya parlemen jalanan dan empirisisme yang didominasi watak gerakan LSM yang praktis dan kongkrit, sedangkan SMY berasosiasi dengan kubu Infight yang menonjol dengan watak teoritk ideologis yang kuat yang menjadi ciri khas KS (Gayatri, 1999: 91).
Pada pertengahan tahun 1990-an, kedua kelompok ini kemudian membentuk jaringan sendiri-sendiri, sehingga terdapat dua jaringan besar kelompok GM yang tersebar di berbagai kota. Perpecahan yang muncul pada awal tahun 1990-an tersebut ternyata telah meluluhkan jaringan solidaritas yang telah dibangun sebelumnya, dan kemudian membentuk jaringan solidaritas yang baru. Kelompok DMPY pada akhirnya nanti menjadi Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI), sedangkan dan SMY pada akhirnya menjadi jaringan Persatuan Rakyat Demokratik (PRD).3
Komunikasi di antara kedua kelompok tersebut sangat buruk, bahkan dalam beberapa hal mereka cenderung menjadi rivalitas. Salah satu kasus yang cukup menonjol adalah ketika PRD dinyatakan sebagai organisasi terlarang oleh pemerintah Orde Baru karena dituduh terlibat sebagai dalang peristiwa 27 Juli 1996. Sejak saat itu para aktivis PRD diburu dan ditangkap oleh aparat keamanan. Akan tetapi, yang kemudian ditangkap tidak hanya kelompok PRD, tetapi juga kelompok-kelompok GM yang lain termasuk FPPI. Akibat peristiwa tersebut, hingga sekarang antara kedua kelompok tersebut masih saling menyalahkan.
Rivalitas antara kedua kelompok tersebut masih terus berlangsung hingga pertengahan tahun 1997. Krisis ekonomi yang menghantam di Indonesia dan beberapa negara Asia telah menjadi momen yang penting bagi munculnya GM turun ke jalanan. Kedua kelompok ini, dan juga muncul kelompok GM yang baru seperti Forkot, dan kelompok mahasiswa ekstra kampus semakin aktif turun ke jalan menuntut perbaikan ekonomi dan pergantian kekuasaan. Mereka ini secara maraton dari pertengahan 1997 hingga Mei 1998 terus menerus melakukan aksi demonstrasi di berbagai kota.
Gerakan Moral dan Gerakan Politik
Muridan S. Widjojo (1999 a: 234-289) telah merumuskan dengan baik mengenai GM 1998 dalam dua kelompok, yaitu "gerakan moral" dan "gerakan politik". Pembagian menjadi dua kelompok ini didasarkan pada wacana yang dikembangkan oleh kelompok-kelompok dalam GM itu sendiri. Gerakan moral mengacu pada wacana yang dikembangkan oleh GM yang mengkritisi kebijakan rejim Orde Baru. Muridan menyebut kelompok ini sebagai Gerakan Kritik Orde baru (GKOB). Sedangkan gerakan politik mengacu pada wacana untuk merobohkan rejim Orde Baru, dan menyebut kelompok ini sebagai Gerakan Anti Orde Baru (GAOB).
"Gerakan moral" mendasarkan diri pada pandangan bahwa perubahan politik dapat dilakukan dengan cara "menghimbau" atau "mengingatkan" kepada elit politik. Berbeda dengan "gerakan politik", gerakan moral ini tidak secara tegas ingin mengganti kekuasaan politik Orde Baru Soeharto saat itu.
Paham ini menekankan "suara" atau "gagasan" sebagai inti gerakan. Ini berati bahwa kapasitas operasi yang diharapkan dari gerakan moral mahasiswa adalah sebatas "menghimbau" dan atau "mengingatkan". Dari sini juga dapat dilihat bahwa penganut paham ini percaya bahwa suatu rejim politik bisa diubah dengan cara "dihimbau" atau "diingatkan" (Widjojo, 1999a: 240).
Sedangkan gerakan politik secara tegas ingin mengganti kekuasaan rejim Orde Baru Soeharto. Kelompok ini menolak semua kerangka asumsi yang dibangun Orde Baru. Sebelum tahun 1997, pemerintah rejim Orde Baru telah melarang mahasiswa terjun ke gerakan politik karena hal tersebut bukan karakter mahasiswa. Menurut pemerintah Orde Baru, mahasiswa harus belajar dan menunjukkan prestasi di kampusnya. Bahkan dapat dikatakan bahwa gerakan politik adalah hal yang tabu bagi mahasiswa saat itu. Akan tetapi tidak bagi kelompok GAOB. Mereka justru ingin menggunakan gerakan politik sebagai senjata untuk melawan pemerintah Orde Baru. Kelompok ini menyatakan bahwa mahasiswa tidak perlu menggunakan pemahaman yang dibuat oleh pemerintah Orde Baru, karena hal tersebut dapat membatasi peran GM itu sendiri.
Dengan menganggap GM sebagai gerakan politik, maka ruang pergerakannya menjadi luas, sehingga dengan demikian dapat berjuang bersama-sama rakyat. Konsekuensi bagi suatu gerakan politik, yaitu menyatunya antara berbagai kekuatan, termasuk dengan rakyat. Kelompok ini secara tegas menginginkan adanya hubungan dengan massa pengilkut di luar kampus. Mengutip sebuah wawancara dengan seorang aktivis dari Unila, Lampung, Widjojo menulis:
Pertama kami tegaskan, gerakan kami adalah gerakan politik dan bukan gerakan moral. Langkah yang kami tempuh berupa aksi atau pergerakan massa (Widjojo, 1999a: 243).
Gagasan untuk menggabungkan kekuatan GM dengan massa di luar kampus ini telah menjadi perdebatan yang sengit diantara kelompok GM sendiri. Kelompok yang dikategorikan sebagai GKOB yang menolak unsur non mahasiswa atau rakyat biasa sebagai kekuatannya. Karena GKOB ingin bahwa GM harus steril dari infiltrasi kelompok-kelompok di luar mahasiswa. Sehingga dalam setiap aksinya, GKOB hanya melibatkan mahasiswa sebagai massanya. Hal ini berbeda dengan GAOB yang justru mengundang kelompok non mahasiswa, yang mereka sebut dengan rakyat untuk mendukung gerakannya.
Akibat dari bersatunya kekuatan mahasiswa dan non mahasiswa ini, GM di beberapa kampus mengalami perbedaan yang sangat tajam, terutama pada pandangan mengenai kekuasaan dan strategi aksi. Tidak jarang antara GKOB dengan GAOB tidak dapat melakukan aksi bersama karena alasan di atas. Bahkan secara ekstrem ada kelompok yang menolak bergabung dengan kelompok GM dari universitas lain. Misalnya, Misalnya pada 4 Maret 1998, GKOB dari Universitas Indonesia menolak ajakan mahasiswa IPB untuk melakukan aksi bersama di jalan (Widjojo, 1999b).
Berikut ini daftar kelompok GM yang dikategorikan sebagai GKOB dan GAOB yang dibuat oleh Widjojo (1999a: 290-376):
GKOB
Kelompok aksi yang dapat dikategorikan ke dalam GKOB adalah Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). Kelompok ini merupakan produk Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus (LDK) X di Universitas Muhammadiyah Malang pada 29 Maret 1998. Pertemuan yang dihadiri oleh sekitar 200 aktivis masjid kampus tersebut telah menghasilkan "Deklarasi Malang". Meskipun aktivitas gerakannya telah dimulai sebelumnya, namun peresmian sebagai organisasi massa formal, baru diputuskan pada 1-4 Oktober 1998. Menurut aktivis Fahri Hamzah, kelahiran KAMMI ini diilhami keberadaan GM tahun 1966, yaitu Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI).
Sebagian besar aktivis KAMMI ini berlatar belakang aktivis LDK yang berasal dari organisasi massa besar seperti Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Kelompok ini membentuk basis-basis gerakan di beberapa universitas besar seperti UI, UGM, ITB, IPB, Unair, Undip dan lain-lain. Dalam setiap aksinya, baik yang ada di kota Jakarta, Yogyakarta, Malang dan Surabaya, KAMMI mampu menghadirkan massa yang cukup banyak.
Orientasi KAMMI adalah reformasi politik dan ekonomi yang dilandasi moral dan ahlak. Namun, kelompok ini tidak secara tegas menyatakan ingin mengganti rejim kekuasaan. "Tujuan gerakan KAMMI adalah memastikan adanya perubahan yang bermanfaat bagi umat Islam dan dalam jangka panjang berupaya membentuk forum yang mapan" (Widjojo, 1999a: 366). KAMMI mengganggap bahwa dialog merupakan saran yang efektif untuk menghindari anggapan bahwa KAMMI adalah kelompok yang fundamentalis.
GAOB
1. Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI)
Seperti telah disinggung di atas, bahwa GM 1990 terpecah menjadi dua kelompok. Masing-masing kelompok ini mengembangkan jaringannya sendiri-sendiri. Salah satu jaringan besar itu adalah FMPY di Yogyakarta. Kelompok ini mengembangkan jaringanya dari Surabaya, Solo, Semarang, Purwokerto dan Jakarta. Di tiap-tiap kota jaringan ini memiliki organ-organ kecil sendiri, yang sangat khas lokal dan tidak tergantung dengan jaringan besarnya. Begitu juga dalam menyikapi isu-isu sosial dan politik, mereka tidak diharuskan mempunyai kesamaan sikap dan pilihan aksinya. Jaringan ini tidak lebih sebagai bentuk solidaritas dan sharing informasi.
Dalam hal ideologi, jaringan kelompok ini memperlakukan ideologi sebagai pengetahuan, karena belum pernah ada kesepakatan secara eksplisit oleh para aktivisnya (Widjojo, 1999: 303). Namun, jika dilihat dari wacana-wacana yang dikembangkan, kelompok ini menganut paham Sosialisme, Islam dan Nasionalisme. Kelompok ini memandang bahwa realitas politik di Indonesia bersifat unik, karena itu ideologi-ideologi besar tidak relevan bagi gerakan politik (Widjojo, 1999: 303).
Meskipun aktivitasnya sudah lama berjalan, namun sebagai organ resmi yang berskala nasional baru disepakati pada 13 Nopember 1998 di Magelang. Jauh hari sebelum menjadi FPPI, organ-organ dalam jaringan kelompok ini telah aktif melakukan aksi-aksi dalam menuntut reformasi dan melengserkan Soeharto. Beberapa organ-organ tersebut adalah: di Yogyakarta muncul Pusat Perjuangan Pemuda Yogyakarta (PPPY), Solidaritas Orang Pinggiran untuk Kemanusiaan (SOPINK), Fampera, Fropera; di Jakarta muncul Forum Aksi Mahasiswa untuk Reformasi dan Demokrasi (Famred) dan Gerakan Mahasiswa Pancasila untuk Reformasi (Gempur); di Purwokerto muncul Aliansi Kebebasan Rakyat Berpendapat (AKRAB) yang kemudian melahirkan Front Aksi Mahasiswa Peduli Rakyat (FAMPR), Komite Mahasiswa untuk Demokrasi Indonesia (Komarudin); di Salatiga muncul Semesta, Serikat Mahasiswa Independen (SMI); di Semarang muncul Forum Mahasiswa Sadar Lingkungan (Formasal); di Surabaya muncul Forum Komunikasi Mahasiswa Surabaya (FKMS); di Malang muncul Gerakan Reformasi untuk Rakkyat Malang (Gerram); di Jombang muncul Forum Mahasiswa Jombang (Formajo); dan di Jember muncul Gerakan Mahasiswa Pecinta Rakyat (Gempar).
2. Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND)
LMND merupakan organ nasional yang merupakan metamorfosis dari PRD, yang memiliki jaringan di Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Solo, Purwokerto. Meskipun tidak dinyatakan secara ekspilit, kelompok ini memilih ideologi Sosialis Demokratik Kerakyatan (Widjojo, 1999: 326). Kelompok ini memiliki organisasi yang cenderung senafas dengan format yang "sentralisme demokratik" (Widjojo, 1999: 327). Berbeda dengan FPPI, organ-organ yang tergabung dalam kelompok ini memiliki pilihan bahasa yang sama serta isu-isu besar yang sama. Secara organisasi, kelompok lebih rapi dibanding dengan FPPI.
Dalam mengantisipasi "incaran" pihak keamanan, kelompok ini menggunakan strategi memilih nama organ "sekali pakai", yaitu menggunakan nama kelompok terntentu hanya pada saat aksi isu tertentu pula dan setelah itu, organ tersebut tidak terdengar lagi. Strategi ini terutama dijalankan setelah peristiwa 27 Juli 1996 hingga akhir tahun 1997.
Adapun organ-organ yang tergabung dalam kelompok ini adalah: di Yogyakarta muncul Komite Nasional Penegak Demokrasi (KNPD), Komite Perjuangan Rakyat untuk Perubahan (KPRP); di Solo muncul Komite Mahasiswa untuk Keadilan dan Demokrasi (KMKD), Dewan Rakyat dan Mahasiswa Surakarta (DRMS), Dewan Ampera Sukoharjo, Dewan Reformasi Rakyat Sragen (DRRS), Dewan Reformasi Rakyat Boyolali (DRRB); di Lampung muncul Persatuan Mahasiswa Pemuda Lampung (PMPL) yang kemudian membentuk Komite Peduli Rakyat (KPR), Komite Mahasiswa Pemuda Rakyat Pelajar Lampung (KMPRPL), Aliansi Demokrasi Indonesia (ALDI); di Jakarta muncul Keluarga Besar UI (KBUI), Kobar, Komite Mahasiswa dan Rakyat untuk Demokrasi (Komrad); di Bandung muncul Gerakan Mahasiswa Indonesia untuk Perubahan (GMIP); di Semarang muncul Forum Pembebasan, Komite Aksi Rakyat Semarang (Keras); dan di Surabaya muncul Aliansi Bersama Rakyat Indonesia (ABRI).
3. Forum Komunitas Mahasiswa se-Jabotabek (FKMsJ/Forum Kota)
Dalam setiap aksinya, FKMsJ (kemudian berubah menjadi Forkot) yang didirikan pada 7 Maret 1998 mampu menarik massa cukup besar. Kelompok ini dibangun disimpul-simpul kampus yang sebelumnya telah memiliki tradisi perlawanan, seperti ISTN, APP, UKI dan IKIP Jakarta (Widjojo, 1999: 342). Forkot memandang bahwa GM yang dibangunnya sebagai kelompok penekan dalam proses menuju reformasi total (Widjojo, 1999: 342). Forkot sangat populer dan mampu menarik perhatian mahasiswa non aktivis sehingga pada setiap aksinya selalu dihadiri ribuan massa.
Ideologi yang dibangun oleh kelompok ini belum begitu jelas, kecuali tuntutannya untuk membentuk Komite Rakyat Indonesia sebagai alternatif pemerintahan transisi paska Soeharto. Konsep ini berasal dari Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) yang dipersiapkan menjelang kemerdekaan Indonesia tahun 1945.
Kelompok ini pernah membangun jaringan di beberapa kota melalui pertemuan mahasiswa se Jawa dan Bali. Namun, hingga sekarang tidak ada tindak lanjutnya.
4. Front Nasional dan Pusat Infromasi dan Jaringan Aksi untuk Reformasi (PIJAR)
Selain Forkot, di Jakarta terdapat dua kelompok GM yang cukup signifikan dalam melakukan aksi-aksi demontrasi menuntut reformasi, yaitu Front Nasional dan PIJAR. Kedua kelompok ini berpusat di Unas. Sama seperti mereka menuntut penyelesaian krisis ekonomi dan melengserkan Soeharto sebagai presiden.
5. Majelis Penyelamatan Organisasi (MPO) HMI4
Agak sulit memposisikan kelompok HMI MPO dalam dikotomi GKOB dengan GAOB. Tanpa alasan yang cukup jelas, Widjojo (1999a: 369-369) mengkategorikan HMI MPO sebagai GKOB. Kemungkinan, alasannya karena HMI MPO dianggap memiliki gen organisasi yang sama dengan HMI, yang terbukti beberapa mantan aktivisnya menjadi pembantu presiden Soeharto. Namun, sesungguhnya terdapat perbedaan mendasar antara HMI dengan HMI MPO, yaitu penolakannya terhadap kebijakan "asas tunggal Pancasila". Dari penolakan ini jelas bahwa HMI MPO sejak awal telah berseberangan dengan rejim Orde Baru Soeharto. Bahkan, antara tahun 1985 hingga pertengahan 1998, HMI MPO ini dianggap sebagai organisasi yang ilegal oleh pemerintah Orde Baru.
HMI MPO membentuk tujuh komite aksi yaitu Forum Komunikasi Mahasiswa Islam Jakarta (FKMIJ), Forum Komunikasi Mahasiswa Islam Semarang (FKMIS), Liga Mahasiswa Muslim Yogyakarta (LMMY), Forum Komunikasi Mahasiswa Islam Ujung Pandang (FKMIU), Forum Komunikasi Mahasiswa Islam Purwokerto (FKMIP), Forum Komunikasi Mahasiswa Islam Kendari (FKMIK) dan Forum Komunikasi Mahasiswa Islam Palu (FKMIP). Komite-komite aksi ini akan mempertanggung-jawabkan kegiatannya kepada Dewan Pimpinan Cabang HMI MPO kota setempat.
Di Jakarta kelompok ini memiliki basis di Universitas Jayabaya, ABA-ABI, IAIN, Unisma, Universitas Muhammadiyah. Di Yogyakarta, kelompok ini berbasis di Jamaah Shalahuddin UGM dan aktivis HMI MPO di beberapa universitas swasta di Yogyakarta.
Antara tahun 1990-an hingga 1997 akhir, isu-isu yang paling sering diangkat dalam setiap aksinya oleh kelompok ini adalah persoalan perilaku keagamaan. Misalnya, isu jilbab, isu lemak babi, isu haram Sumbangan Sosial Berhadiah (SDSB) dan isu-isu politik internasional seperti isu pro Saddam, anti Israel, dan isu anti Amerika. Pada tahun 1993-1994, kelompok ini mulai melontarkan isu politik dan ekonomi tentang ketidak-beresan perilaku kekuasaan rejim Orde Baru dengan mengangkat isu kredit macet. Menjelang akhir tahun 1997, kelompok ini mulai mengangkat isu anti Orde baru Soeharto. Bahkan LMMY beberapa kali melakukan aksi bersama dengan kelompok kiri radikal seperti PRD.
Dinamika GM Paska Mei 1998
Paska kejatuhan Soeharto 1998, antara kelompok-kelompok GM maupun dalam internal kelompok GM mengalami perbedaan pendapat yang sangat tajam. Perbedaan ini mulai muncul ketika mensikapi naiknya Habibie sebagai presiden. Bagi kelompok GKOB menganggap bahwa perjuangan mereka telah selesai, sedangkan bagi GAOB masih menganggap bahwa Habibie merupakan perpanjangan tangan dari Soeharto.
Akibat dari perbedaan tersebut, pada tanggal 22 Mei 1998, di gedung DPR hampir terjadi bentrok antara kelompok yang mendukung Habibie sebagai presiden melawan ribuan mahasiswa yang menentang Habibie sebagai presiden. Kelompok yang mendukung Habibie antara lain adalah KISDI, Humanika dan kelompok preman yang menamakan dirinya pendekar banten. Humanika ini adalah kelompok yang sebagian aktivisnya merupakan mantan anggota HMI sewaktu mereka menjadi mahasiswa tahun 1978-an. Mereka ini kelompok yang cukup dekat dengan Habibie, terutama setelah Habibie menjadi ketua Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI). Dukungan yang diberikan terhadap Habibie yang ICMI diharapkan akan membawa keuntungan bagi KISDI dan Humanika. Pada 23 Mei 1998, KAMMI Solo dan Salatiga melakukan aksi menerima Habibie sebagai presiden. Sementara di Semarang, pada 25 Mei 1998, kelompok yang menamakan diri SMPT se Jateng mendukung Habibie. Di daerah-daerah lain seperti di Surabaya, Ujung Pandang dan Bandung, kelompok-kelompok yang dikategorikan GKOB secara serempak melakukan aksi mendukung Habibie.
Tetapi di lain pihak, pada tanggal 28 Mei 1998, Forkot dan FKSMJ aksi di gedung DPR RI menolak Habibie serta menuntut dibentuknya KRI, untuk membentuk eksekutif dan DPRS/MPRS serta menyelenggarakan kabinet sementara serta mempercepat pemilu dan Sidang Istimewa. Tuntutan tersebut bertentangan dengan keinginan kelompok GKOB untuk menjadikan Habibie sebagai presiden. Pada 22 Mei 1998, LMMY, PMII, GKMI dan kelompok GAOB lainnya di Yogyakarta juga melakukan aksi menolak Habibie dan kabinetnya. DRMS Solo juga melakukan aksi menolak Habibie dengan melakukan aksi di Balaikota Solo. Penolakan yang sama juga dilakukan oleh AMRS di Semarang pada 23 Mei 1998 di Kantor Gubernur Jawa dan FKPI di depan gedung DPRD I pada 25 Mei 1998. Aksi yang sama juga dilakukan oleh kelompok GAOB di seluruh kota-kota besar di Indonesia untuk menolak Habibie sebagai presiden.
Pertentangan tersebut terus mewarnai demonstrasi-demonstrasi di Jakarta dan beberapa kota lainnya antara akhir Mei hingga September 1999. Tetapi, kuantitas aksi demonstrasi mulai menuntut dan menolak habibie mulai berkurang pada bulan Juli hingga September 1998. Tetapi, wacana tentang perbedaan tersebut makin menajam di antatra kelompok GKOB dengan GAOB pada bulan Oktober 1998. Misalnya pada 28 Oktober 1998 di Bandung hampir terjadi bentrok di antara kelompok tersebut. Pasalnya, aksi yang sebelumnya dilakukan oleh kelompok GAOB dengan memasang spanduk anti Habibie, tiba-tiba dirubah oleh kelompok GKOB menjadi dukungan terhadap Habibie. Ketegangan-ketegangan tersebut juga terjadi di beberapa kota besar di Indonesia.
Perbedaan ini terus berlanjut dalam menyikapi perkembangan politik nasional. Kedua kelompok di atas seringkali mengambil posisi yang berseberangan dalam menghadapi isu-isu penting nasional.
Daftar Pustaka
Gayatri, Irine H., "Arah baru Perlawanan Gerakan Mahasiswa 1989-1993", dalam Widjojo, Muridan S. (et.al), 1999, Penakluk Rezim Orde Baru, Gerakan Mahasiswa '98, Jakarta: Sinar Harapan, h. 64-125

Harahap, Muchtar E dan Basril, Andris, 1999, Gerakan Mahasiswa dalam Politik Indonesia, Jakarta: NSEAS

Keesing, R.H., "Theories of Culture Revisited", dalam R. Borofsky (ed.) 1994, Assessing Cultural Anthoropology, New York: McGraw-Hill, h. 301-012

Sanit, Arbi, "Gerakan Mahasiswa 1970-1973: Pecahnya Bulan Madu Politik, dalam Widjojo, Muridan S. (et.al), 1999, Penakluk Rezim Orde Baru, Gerakan Mahasiswa '98, Jakarta: Sinar Harapan, h. 45-63

Soewarsono, "Prolog: Gerakan Mahasiswa 1998", dalam Widjojo, Muridan S. (et.al), 1999, Penakluk Rezim Orde Baru, Gerakan Mahasiswa '98, Jakarta: Sinar Harapan, h. 1-16

Widjojo, Muridan S. (et.al), 1999a, Penakluk Rezim Orde Baru, Gerakan Mahasiswa '98, Jakarta: Sinar Harapan

Widjojo, Muridan S. (et.al), 1999b, Kronologi Kronologi Demonstrasi Mahasiswa1989-1998, draft tidak dipublikasikan

Winarto, Yunita T., "Pendekatan prosesual: Menjawab Tantangan dalam Mengkaji Dinamika Budaya", dalam Antropologi Indonesia, No. 60, 1999, h. 25-35

1 Sebagian besar data yang digunakan dalam tulisan ini diambil dari hasil penelitian Muridan S. Widjojo dkk. (1999), yang dipublikasikan dalam buku Penakluk Rezim Orde Baru, Gerakan Mahasiswa '98 (Jakarta: Sinar Harapan). Dalam penelitian tersebut saya menjadi salah satu asisten peneliti.
2 Peristiwa Malari 1974 bermula dari aksi mahasiswa menolak kedatangan Perdana Menteri Jepang Tanaka sebagai simbol untuk menentang investasi modal asing. Namun peristiwa tersebut akhirnya berubah menjadi kerusuhan yang telah menyebabkan 9 orang meninggal, 23 orang terluka dan beberapa banguan termasuk pasar Senen terbakar. Dari peristiwa tersebut, pihak keamanan telah menahan 700 orang dan 45 diantaranya diajukan ke pengadilan. Pada saat yang sama, pemerintahan membredel beberapa koran yang telah memberitakan peristiwa tersebut (Sanit, 1999: 53-54).
3 PRD kemudian berubah menjadi Partai Rakyat Demokratik.

4 Pada tahun 1983, pemerintah rejim Orde Baru menetapkan Pancasila sebagai satu-satunya asas bagi setiap organisasi yang ada di Indonesia. Kebijakan ini telah berpengaruh pada organisasi HMI yang pada tahun 1984 terpecah menjadi dua kelompok, yaitu HMI Dipo (yang diakui pemerintah Orde Baru) yang menerima asas tunggal Pancasila dan HMI MPO yang menolak asas tunggal Pancasila. Penyebutan HMI Dipo karena kelompok HMI ini bermarkas di jalan Diponegoro, sedangkan HMI MPO berkenginan menyelamatkan organisasi dari campur tangan kekuasaan.

Posted at 10:10 am by mashudi