Kembali ke gunung

0 comments
kenapa mendaki gunung? karena ia ada di sana..
sebuah pertanyaan dan jawaban yang begitu populer dikalangan pendaki gunung. Kata legendaris ini begitu ringan keluar dari mulut GL, Mallory. seorang petualang dan pendaki gunung sejati yang hilang saat mendaki everest tahun 1924.

Pertanyaan kenapa mendaki gunung menjadi pertanyaan klasik bagi sebagian besar orang yang sedikit memiliki jiwa petualang alam. Sudah bisa dibayangkan, dalam dingin dan terik, berbekal "seadanya", berjalan kaki menyusuri jalanan mendaki. belum terhitung untuk menuju kaki gunung. tidak jarang memerlukan perjuangan yang tak kalah "sengsaranya". Lalu, kenapa harus naik gunung? aneh tentunya. toh kalau hanya sekedar mendapatkan pemandangan dari ketinggian, cukup dari dataran tinggi yang bisa dijangkau oleh kendaraan. ada tangkuban prahu, puncak pas, bromo atau... banyak tempat lain.

Menjawab pertanyaan kenapa mendaki gunung begitu penting untuk dijawab. berbagai argumentasi, bahkan disertai emosi dan intimidasi pun tidak jarang dilakukan. Padahal, si penanya kadang bertanya jujur. bukan mencemooh karena si pendaki dianggap melakukan pekerjaan sia-sia. udah cape, pake keluar duit banyak pula...

secara tidak sadar, menjawab dengan sengit atas pertanyaan sederhana adalah bentuk dari sebuah kebutuhan atas pengakuan. kalau  mendaki gunung adalah sebuah kebenaran. tindakan mulia atau bahkan tindakan heroisme. ada kebanggaan tersendiri saat orang lain memberikan stempel sang pendaki gunung.

era 90-an, kebanggaan tersebut bahkan diakomodir oleh gaya atau fasyen petulang. sandal dan sepatu gunung, celana lapang/cargo, kemeja flanel plus tas punggung parasut. tidak lupa berbagai accessories berbau petualang. dari mulai gelang, kalung, jam tangan dll.
pemakainya, tidak lagi sang pendaki gunung tentunya. tapi masyarakat yang tak mengenal kaki gunung pun meramaikan style yang sedang trend tersebut.

trend fasyen satu sisi turut mendukung semakin mudahnya kita mendapatkan peralatan gunung. sebelumnya, harga peralatan gunung yang serba mahal perlahan mulai merakyat. karena mekanisme pasar mulai memainkan peran. munculnya produsen perlengkapan alam bebas memberikan banyak pilihan. ketersediaan barang yang melimpah, bahkan merk2 terkenal yang sebelumnya hanya menjadi mimpi untuk mendapatkannya, kini bersaing ketat dipasaran.

Jayagiri yang selanjutnya beralih merk menjadi dody dan alphina tidak lagi menjadi merk dominan tas punggung, kantung tidur maupun pakaian sang petualang. muncul merk eiger yang mulai menerobos dengan model2 trendy. selanjutnya mulai bermunculan merk lain seperti avtect, consina, co treck, rei dll. produk luar seperti karrimor, deuter, the north face, JW, Jeans Sport dll pun begitu mudah dengan harga yang tidak terlalu jauh berbeda dengan produk lokal.

Sebuah Langkah Awal...
Tahun 1986, adalah awal dari sebuah pengalaman baru. Saat itu aku duduk di kelas 2 SMP. entah ide dari mana, saat itu disepakati untuk jalan2 masuk hutan ujung kulon. hutan yang konon masih perawan dan menyimpan sejuta misteri. Berjuta cerita mistik menyelimuti kawasan taman nasional saat itu. dari mulai ular sebesar batang pohon kelapa, kalajengking lengan orang dewasa, lipan sebesar piring, monyet sebsar orang sampai burung raksasa. Namun konyolnya, justru cerita2 seram itu lah yang menjadi daya tarik saat itu.

ber-11 orang, kami mulai menjalankan rencana tersebut. Dengan menumpang truck, kami mulai menuju lokasi. Kami harus berganti menumpang truck yang kebetulan lewat beberapa kali untuk sampai mendekati lokasi.. dan terus bertanya tentunya setiap bertemu penduduk untuk menunjukan jalan menuju kampung bernama Cibaliung. tidak satu pun dari kami ber 11 yang pernah berkunjung ke sana. hanya cerita saja ada kampung bernama cibaliung sebelum masuk hutan ujung kulon.

setelah yakin tidak ada lagi kendaraan yang lewat, kami pun memutuskan untuk mulai berjalan kaki. saya tidak ingat, awal berjalan kaki. yang teringat adalah, semalaman kami berjalan di kegelapan malam menyusuri jalanan tanah. istirahat hanya sesaat lalu lanjut berjalan, jalan dan jalan. sampai akhirnya kami kelelahan dan tertidur dipinggir pantai. esoknya, kami melanjutkan perjalanan. tidak banyak rumah penduduk saat itu yang kami temui. karena kami mengambil jalan pintas. sampai desa terakhir menjelang pagi.

dasar tak punya pengalaman apa2. sesampai kampung terakhir, kami tidak menemui penduduk atau sesepuh desa. tapi kami langsung masuk hutan, menyusuri jalan setapak yang biasa digunakan penduduk. canda tawa terus mewarnai perjalanan kami. kami menggunakan gubug2 penduduk ditengah hutan untuk bermalam. rasa riang gembira itu terus menyertai kami sampai kami sadar, kalau kami tidak tahu lagi arah jalan. saat itu adalah hari ke 3 di dalam hutan dan berencana untuk kembali.

saat itu seluruh tim merahasiakan dariku agar aku sebagai orang paling kecil tidak panik. aku baru mengetahu kalau tersesat, setelah memasuki hari ke 5. saat bekal makanan kami habis. ajaibnya, tidak ada sedikitpun rasa panik atau cemas tidak bisa pulang. sikapku yang tenang dan tidak menjadikan "ketersesatan"ku sebagai persoalan sepertinya sangat membantu orang dewasa di timku untuk mencari jalan keluar.

rencana pun disusun. tentunya tidak didasarkan ilmu survival yang menjadi teknik dasar bagi kawan2 pencinta alam saat ini. tapi lebih ke arah insting mahluk hidup untuk tetap bertahan hidup. makanan dan air untuk minum adalah prioritas kami. dan tentu saja berdoa dan tertib menjalankan sholat agar bisa selamat kembali ke rumah.

tidak ada lagi jalan setapak. patokan kami hanya arah matahari. namun, kadang, rimbunnya pohon menutup arah matahari tersebut berada dimana. belum lagi kontur lahan yang membentuk patahanan2. siang hari adalah waktu untuk mencari jalan. menjelang malam, kami segera membangun tempat tidur di atas pohon.

Hari ke 8 kami hampir putus asa. bayangan kami adalah menjadi penghuni tetap hutan ujung kulon. menjadi pertapa atau tarzan. tidak jarang antara orang dewasa mulai bertengkar dengan berbagai persoalan. tapi selalu dapat diredam karena posisi kita yang harus tetap bersatu. Kami pun memutuskan untuk menyerahkan diri kepada Yang Maha Kuasa. tidak ngotot segera bertemu jalan, syukur2 ketemu orang yang bisa membimbing kita untuk kembali pulang.

Hari ke 12, kami mendengar suara ombak. begitu girangnya saat itu. karena bayangan akan segera bertemu kampung. bertemu orang dan tentu saja kembali makan nasi. Semak belukar kami terobos. Namun kami tidak bisa menembusnya hari itu karena hari telah kembali berganti malam. Kami pun kembali bermalam. karena tidak ada lagi senter yang bisa kami gunakan untuk menembus kegelapan malam. tidak ada lagi tempat tidur yang disiapkan untuk sedikit nyaman tidur di atas pohon. kami masing2 hanya mencari dahan yang bisa menjaga kami untuk tidak jatuh ke bawah.

Esok pagi, tidak ada lagi suara ombak yang sebelumnya terdengar begitu dekat. kami pun kembali bingung. jika itu suara "mistrius". kemapa semua orang mendengar. Kami pun seharian tidak melakukan apa2. hanya berdiam diri dan tidur2an disekitar lokasi. menjelang siang, kami putuskan untuk kembali mengikuti jalan sebelumnya. tidak melanjutkan menerbos untuk mengikuti arah suara ombak. kembali karena kami perlu air minum.

selanjutnya, kami kembali mengikuti arah matahari terbenam. perlahan menerobos lebatnya hutan. pohon tumbang dan membentuk bak benteng kompeni tidak lagi menarik perhatian. lipan sebesar jembol kaki orang dewasa tidak lagi menjadi hiburan menarik. demikian juga dengan kalajengking super besar yang kerap kami temui di sekitar tumbukan serasah saat kami istirahat.

kami tidak lagi mengenal hari atau tanggal. berjalan dan terus berjalan. lelah, istirahat. saat menjelang malam, segera kami istirahat. rutinitas itu terus kami jalani. sampai akhirnya menemukan jalan setapak yang begitu bersih. jalan setapak yang seolah2 sering dilewati orang. tidak terbayangkan, bagaimana kegembiraan kami saat itu... sampai semua orang berteriak sekuat2nya karena bayangan terselamatkan telah di depan mata.

Dengan sangat yakin, kami pun mengukuti jalan setapak tersebut. menjelang tengah hari, kami sampai ke kebun yang tertata rapih. Kami pun berlari untuk bisa mendapatkan sesuatu yang bisa di makan. Disana, ada seorang bapak tua yang sedang membersihkan kebun. dengan senyum ramah, memberikan hasil kebun kepada kami. Pepaya matang dengan ukuran yang wah. sebuah makanan mewah tentunya setelah berhari2 hanya makan daun dan garam.

setelah habis dua buah pepaya besar, si Bapak pun mengajak kami ke rumahnya. disana, telah tersedia nasi hangat dan lauk pauknya. kami pun tidak sungkan untuk menyantap makanan lezat tersebut. Banyak tua yang ditemani istri dan anak perempuannya hanya tersenyum ramah menyaksikan kami seperti kesetanan manyantap makanan tersebut.

Bapak tua itu pun menyuruh kami untuk sholat ashar. sama sekali kami tidak menunda perintah tersebut. seluruh tim sholat berjamaah. selesai sholat, kami telah disediakan kopi dan singkong rebus dengan parutan kelapa. si bapak tua maupun istri dan anaknya sama sekali tidak mau menemani kami. kami berpikir simple, mungkin tidak enak mengganggu orang kelaparan. khawatir sungkan dalam menyantap hidangan yang disediakan.

setelah semua kandas makanan yang ada, si bapak pun mendatangi kami. beliau memberikan pesan singkat. segera ikuti jalan setapak dan jangan menengok ke belakang sampai bertemu rumah pertama di kampung. pesan itu diulangnya tiga kali. setelah itu, kami diminta untuk melanjutkan perjalanan.

ada rasa heran dan ingin bertanya, kenapa? tapi kami tidak melakukannya dengan beberapa pertimbangan. dan yang palling utama, tentu kami segera sampai kampung dan pulang. kami pun berpamitan dan melanjutkan perjalanan. kami betul2 menahan diri untuk tidak melihat ke belakang. berjalan cepat, jalan dan jalan. Menjelang magrib, kami melihat rumah. Kami pun berlari untuk bisa sampai ke rumah tersebut.

Pemilik rumah tak bisa menutup keheranannya atas kedatangan kami. bersebelas orang dengan keadaan kacau balau, menjelang magrib tiba2 muncul dari dalam hutan. Namun kerawahannya mengalahkan rasa heran. tanpa banyak tanya, si empu rumah pun mempersilahkan kami masuk. meminta sang istri untuk menyiapkan makanan dan munuman.

setelah sholat isya, kami pun telah disiapkan makan malam. tidak ada pertanyaan macam2 selain menanyakan asal kami. bercerita ringan selanjutnya mempersilahkan kami untuk istirahat.

esok pagi, baru lah si bapak pemilik rumah mulai bertanya detil tentang dari mana tiba2 muncul dari dalam hutan. tujuan kami ke dalam hutan, berapa lama dll. Hal ajaib adalah, si bapak telah menebak kalau kami bertemu satu keluarga di dalam hutan. dan beliau lah yang menunjukan jalan pulang.

Kami baru sadar setelah si bapak bercerita tentang siapa sesungguhnya orang baik di dalam hutan tersebut. dia adalah penjaga hutan. dia akan baik kalau kita memiliki hati yang baik. dan akan sebaliknya kalau kita memiliki niat jahat. kami mulai merenungkan, kenapa tiba2 ada jalan. si bapak telah menyediakan pepaya yang cukup buat kami ber sebelas. sampai rumah, telah tersedia nasi plus lauk pauk yang juga cukup untuk sebelas orang. padahal, beliau hanya tinggal bertiga. dan tentu pesan untuk berjalan mengikuti jalan setapak dan tidak boleh menengok ke belakang. 
  
ke anehan2 itu begitu besar saat itu. kami pun baru tahu, jika kami melanggar pesan untuk tidak menengok, bisa dipastikan kami tidak akan lagi kembali ke dunia manusia.. dan kami memang beruntung karena kami masih dapat kembali setelah 21 hari berjibaku dalam hutan yang tidak kami kenal dengan bekal minimalis.

sesampai rumah, aku habis2an mendapatkan hadiah omelan tak berkesudahan. karena pergi tanpa pamit dan tanpa kabar. satu hari menikmati rumah, aku harus pindah tidur ke rumah sakit. saya positif terkena virus malaria. Hampir satu minggu aku terbaring disana untuk kembali pulih.

Kapok,,,, ternyata tidak. justru perjalananku yang tak terduga menjadi awal kegilaanku atas petualangan-petualangan selanjutnya......

Setelah pulih, kami dari sebelas orang itu pun kembali membuat rencana lain. Mendaki gunung. Gunung  (1.778 mdpl), Sebuah gunung yang tidak terlalu tinggi di Kab. Pandeglang -  Banten. Gunung ini pun menyimpan banyak misteri dan menjadi bagian dari cerita legenda di Banten. Sumur Tujuh adalah salah satunya yang konon hanya yang berhati bersih yang bisa melihatnya.tidak lagi bersebelas, tapi hanya tersisa 3 orang yang masih tetap memiliki keinginan untuk melanjutkan perjalanan ke tempat2 yang dahsyat... menurut kami ber-empat.

Pendakian pertama akhirnya bisa kami wujudkan menjelang ujian akhir SMP. dengan ransel tentara berukuran mini berbahan terpal, wajan kecil, penggorengan (tentu semuanya bergelantungan di luar ransel), kami mulai menapakan kaki merayapi punggungan gunung karang.

sayang, pendakian maupun perjananan di ujung kulon tak ada dokumentasinya. harap maklum, saat itu kamera dengan film masih merupakan barang mewah. peralatan hikking, jangan tanya. kami pun saat itu tidak pernah tahu kalau ada tas khusus untuk mendaki, sleeping bag, nesting, parafin dll.

baru setelah itu, aku dikenalkan peralatan pendakian milik tentara. om ku yang serdadu memberiku hadiah perlengkapan lapang setelah tahu, aku suka naik gunung dan pernah tersesat di hutan ujung kulon. nesting, kompor parafin, sleeping bags tentara, jas hujan, jaket, survival kits,  plus sepatu PDL adalah hadiah pertamaku. juga buku panduan survival dan mountaineering. tiga bulan berikut, tas jayagiri dengan frame luar pun aku dapatkan sebagai hadiah kedua. dengan satu syarat, aku harus melanjutkan sekolah ke SMA.. :-)
(saat itu aku mogok sekolah.. karena merasa bosa...)

foto 2, 3 dan 4; di ambil dari internet
 

Nasruddin, Bapak Lela Sangkuriang

4 comments

Nasruddin, Bapak Lele Sangkuriang

Selasa, 10 Mei 2011 10:12

Kecebong, anak kodok, muncul di kolam, membuat Nasrudin gembira karena dia mengira kecebong itu anak ikan lele. Kegembiraannya itu sirna dan dia tersipu malu ketika diberi tahu bahwa yang dikira anak ikan lele itu adalah kecebong. Kodok betina yang masuk ke kolam tanpa diketahui, bertelur dan menetas bersama dua indukan ikan lele betina dan seekor jantan.

Itu pengalaman pertama Nasrudin (61) sejak delapan tahun lalu saat belajar beternak ikan lele.

"Kecebong disangka anak lele. Ngerakeun pisan (sangat memalukan)," kata Nasrudin, menuturkan awal usahanya menjadi peternak ikan lele delapan tahun lalu, di Saung Pertemuan Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) Jaya Sentosa, awal November lalu. Saung itu berdiri di tepi puluhan kolam ikan lele yang terbuat dari terpal dan tembok di lahan seluas 12.000 meter persegi di Kampung Sukabirus, Desa Gadog, Kecamatan Mega Mendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Kini, dia tak lagi dipermalukan atas ketidaktahuannya. Nasrudin sudah tersohor berkat lele sangkuriang yang mulai dikembangbiakkan pada 2011. Dia mengawali usaha beternak lele dengan benih sekitar 100.000 lele sangkuriang yang diperoleh dari Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar Sukabumi. Nama sangkuriang yang diberikan itu memang diambil dari legenda Tanah Pasundan untuk menandakan lokasi asal pembiakan lele jenis tersebut.

Lele sangkuriang ini merupakan perbaikan genetik melalui silang balik antara induk betina lele dumbo generasi kedua (F2) dan jantan lele dumbo generasi keenam (F6). Induk betina (F2) berasal dari keturunan kedua lele dumbo yang diintroduksi ke Indonesia pada 1985.

Petugas penyuluh pertanian dan perikanan setempat memberikan bimbingan beternak ikan secara benar. Berkat ketekunannya, Nasrudin berhasil mengembangkan ikan lele sangkuriang.

Dia kini sudah menjadi "pendekar lele", bukan saja mahir dalam membesarkan lele dengan jurus-jurus yang jitu, tetapi juga mampu mengobati lele yang diserang penyakit, seperti radang kulit, dengan obat herbal ramuannya sendiri. Obat ini diberikan cuma-cuma kepada yang memerlukan.

"Letkol"

Sejak 2005, dia menjadi pelatih bagi kelompok dari sejumlah daerah, termasuk sejumlah karyawan perusahaan swasta dan pemerintah menjelang pensiun yang ingin beternak lele. Namanya pun sohor menjadi "Nasrudin Lele" dari Desa Gadog. Bahkan, kalangan pembudidaya lele dan warga setempat menjuluki Nasrudin dengan sebutan Bapak Letkol—akronim dari Lele Kolam yang dipelesetkan menjadi Letkol—sehingga dia kemudian disebut "Letkol" Nasrudin.

Petani lele sangkuriang dari Desa Gadog ini kini lebih jauh berangan-angan membantu pemerintah mengurangi angka pengangguran dengan memelihara lele. "Budidaya lele tidak terlalu sulit, teknologinya juga mudah dan tiga bulan sudah bisa dipanen. Masyarakat kecil bisa membudidayakan lele di halaman rumahnya. Cukup dengan lahan minim, hanya dengan luas 1 meter x 1 meter, serta modal Rp 75.000 untuk bibit dan pakan, sudah bisa beternak lele skala kecil," kata Nasrudin.

Dia tak segan-segan membagi pengetahuan memelihara lele secara benar kepada mereka yang ingin membudidayakan lele. Dia juga siap membantu mereka yang datang menimba ilmu di P4S Gadog tanpa dipungut biaya.

Sejumlah petugas penyuluh pertanian dan perikanan serta pakar perikanan pun mendukung kegiatan Nasrudin membudidayakan lele sangkuriang dan melakukan pelatihan. Dukungan ini membuat Nasrudin bersemangat dan bertambah yakin akan angan-angannya untuk menjadikan Desa Gadog sebagai sentra budidaya lele sangkuriang.

Bahkan, 7 September lalu, Nasrudin diangkat menjadi Ketua Gabungan Kelompok (Gapok) Budidaya Ikan Lele Sangkuriang "Cahaya Kita" untuk wilayah tengah Provinsi Jabar dengan pusat aktivitas di wilayah Kabupaten/Kota Bogor.

1,5 juta benih

Nasrudin yang puluhan tahun sebagai petani padi dan kemudian beralih menjadi pembudidaya lele ini, bersama kelompok pembenih lele sangkuriang yang tergabung dalam Gapok Cahaya Kita, ingin memproduksi sekitar 1,5 juta benih lele sangkuriang setiap bulan untuk memasok anggota kelompok budidaya lele sangkuriang yang saat ini berjumlah sekitar 50 orang.

Dengan produksi benih sebanyak itu, kelompok budidaya/pembesar ikan lele sangkuriang diharapkan mampu memenuhi sebagian kebutuhan lele di wilayah Jakarta. Adapun kebutuhan lele di wilayah Jabotabek diperkirakan sekitar 75 ton sehari. Pemasoknya bukan saja berasal dari petani lele Jabar, tetapi juga dari Jawa Tengah.

"Saat ini boro-boro memasok ke Jakarta, untuk memenuhi kebutuhan konsumen di wilayah Kota/Kabupaten Bogor saja kekurangan. Kami peternak lele sangkuriang di daerah Gadog dan sekitarnya, meliputi Kecamatan Ciawi, Megamendung, dan Cisarua, baru mampu memproduksi sekitar 3 ton per hari dari kebutuhan sekitar 10 ton," kata "Letkol" Nasarudin. Dari kolamnya sendiri, Nasrudin baru mampu memasok sekitar 2 ton per minggu kepada pelanggannya. Lele sangkuriang dijual Rp 10.500-Rp 11.000 per kilogram.

Masa depan budidaya lele cukup cerah. Apalagi, menurut Muhamad Abduh Nur Hidayat, anggota staf Ditjen Perikanan Budidaya Departemen Kelautan dan Perikanan, ikan lele akan dijadikan komoditas ketahanan pangan. Konsepnya kini sedang disiapkan. Ikan lele saat ini sudah digemari oleh kalangan bawah sampai atas. Bahkan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga sempat mempromosikannya dengan menikmati ikan lele di kampung lele Boyolali, Jateng, tahun 2007.

Andil pedagang tenda pecel lele di Jabotabek dan daerah lainnya cukup besar dalam meningkatkan produksi ikan lele. "Sekarang lele juga dijual di restoran, bahkan sampai ke daerah Kalimantan Barat yang dulu tak suka ikan lele," kata Muhamad Abduh Nur Hidayat, penasihat Gapok Cahaya Kita.

Lele sangkuriang yang dirilis sebagai varietas unggul oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Rokhmin Dahuri pada 2004 ini lebih cepat dipanen dibandingkan jenis ikan lainnya dan tahan penyakit. Ukurannya lebih besar dibandingkan lele jenis lain. Dua bulan sudah bisa dipanen. Rasa dagingnya juga lebih gurih dibandingkan lele jenis lain. "Karena itu, tak heran kalau lele sangkuriang disukai konsumen," kata "Letkol" Nasrudin.(kompas.com)


KETIKA RINDU ITU DATANG...

27 comments
Kenapa naik gunung? karena dia (gunung/puncak) ada di sana.
Jawaban atau kalimat itu melegenda dan menjadi kata-kata "sakti" para penggemar mendaki gunung. bahkan diberkembang bagi kegiatan2 alam bebas lainnya. Kalimat jawaban itu mungkin muncul secara spontan dari seorang George Herbert Leigh Mallory, yang menutup mata untuk selamanya pada kebekuan The North Face - Mount Everest, 8-9/6/1924.

Mallory is famously quoted as having replied to the question "why do you want to climb Mt. Everest?" with the retort: "because it's there", which has been called "the most famous four words in mountaineering". Recently some questions have been raised regarding the authenticity of that quote, and whether Mallory had actually said it, with a possibility the quote was invented by a newspaper reporter

Bagi pecandu naek turun gunung, gunung-gunung yang bertebaran di muka bumi ini adalah magnet. bertambahnya usia, kesibukan atau apapun.. tidak bisa menghapus rasa rindu dan keinginan untuk kembali... mendaki.. menghirup udara segar pegunungan.. menikmati aroma tanah berhumus atau nyanyian angin. Puncak gunung itu.. terus melempar senyum, melambai dan menggoda. Tinggal, sebarapa para "pensiunan" pendaki gunung kuat menahan gejolak hatinya... Untuk kembali packing seluruh kebutuhan pendakian dalam Carrier.

Sumedang, Juli 2007
Gunung Tampomas (1.684 mdpl) begitu anggun sekalgus angkuh. Nama gunung itu begitu terkenal pada tahun 1981, tepatnya 27 Januari bersamaan dengan bencana tenggelamnya sebuah kapal penumpang yang menggunakan nama gunung di Kabupeten Sumedang - Jawa Barat. Tampomas II, terbakar dan tenggelam di Kepulauan Masalembo. Tragedi memilukan akibat kelalaian management transportasi yang menyebabkan ratusan putra bangsa meninggal ini menyeret Iwan Fals berceloteh lewat bait syairnya yang tajam.. celoteh camar tolol dan cemar..

Untuk ukuran gunung buat kegiatan mendaki, Tampomas tidak begitu menantang. Ketinggian sebuah gunung kerap menjadi ukuran para penggiat pendaki untuk memasukan ke dalam list "harus di jajal". dan Tampomas sebuah gunung "kerdil" dengan ketinggian di bawah 2.000 mdpl. apa menariknya??? wal hasil, tidak begitu banyak para pengejar "puncak" menjajal track dan menggapai puncaknya.

Senyum manis dan lambaian tampomas terlalu ramah. Menyapa dan menebar pesona setiap kaki mulai memasuki kampung halaman, di Kaki gunung ini. Rutinitas kerja dan berkeliling antar pulau membuat rindu menjajaki jalan setapak diantara hijau dedaunan hutan kian akut. Let's climbing.. go track.. go to the top..

Memasuki masa liburan sekolah dasar, lambayan ramah sang gunung pun dipenuhi. sekaligus memenuhi keinginan si sulung untuk mengijak atap bumi. Berenam, aku mulai memenuhi rasa rindu akan gunung. Menghitung mundur, terakhir mendaki gunung Merapi, tahun 2002. artinya, lima tahun telah terlewati memendam rasa rindu akan mendaki gunung.

Kawasan konservesi yang memprihatinkan
Pendakian dimulai dari TPA (tempat pembuangan akhir) sampah. sepanjang jalan menuju post 1, bertebaran lubang2 dari si tangan besi "begho" yang mengeruk tambang galian C. tak jelas.. mana batas kawasan hutan lindung kawasan hutan gunung Tampomas.

TPA sampah ditempatkan di ketinggian.. berdampingan dengan hutan lindung.. dibawahnya.. mesin desel dari beegho tak pernah berhenti. mengeruk pasir dan batu untuk kebutuhan pembangunan fisik tanpa henti.... sepanjang hari.

Bisa dibayangkan, dampak sampah yang ditempatkan pada dataran tinggi bagi kehidupan dibawahnya. pencemaran... apalagi, management sampah di negeri ini, tidak memilih sambah jenis berbahaya dan beracun, organic maupun anorganic. pencemar itu meresap ke dalam tanah.. menguap mencemari udara dan juga terbawa air hujan, menyatu dengan air permukaan yang menjadi sumber kehidupan warga di kawasan bawahan.

sementara, tambang2 pasir tanpa kontrol yang jelas.. merusak bentang alam dan ekosistem kawasan. pada beberapa dusun, secara nyata telah menyebabkan kelangkaan air bersih. Bahkan pada musim kemarau, air pun menjadi barang mahal. satu kasus tragis pun terjadi.. salah satu warga harus meregang nyawa akibat berebut mengairi sawahnya. Kelangkaan air yang tek pernah terjadi sebelumnya. Belum lagi debu2 yang setia menyelimuti perumahan penduduk bersamaan sang truck berbadan besar pengangkut pasir melintas perkampungan. Kerusakan jalan.... akibat jalan yang tak sanggup menerima beban kendaraannya.

Menuju Puncak
perjalanan menuju pucak gng Tampomas sedikit menjemukan. Deretan pohon di dominasi tanaman monokultur, Pinus. Menjelang puncak, baru hutan alam dapat ditemui. dimulai dari tanaman pakis bertubuh bongsor. dan berbagai tanaman khas dataran tinggi (hutan tropis pegunungan) satu persatu mulai memarkerkan keperkasaannya; jamuju (podocarpus imricatus), saniten (castanea argentaea), rotan (calamus sp), Kadaka (Dryanaria sp), rasamala (altingia excelsea) dll.
Begitu indah.. begitu sempurna. Hutan tanpa campur tangan manusia dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Kesempurnaan alam dengan bumbu nyanyian riang satwa liar.

sanghyang lawang.. sanghyang taraje.. dan beberapa nama khas sunda bisa memaksa bulu kuduk berjingkrak. segenap cerita mistik bertebaran di kampung bawah. tentu semakin lengkap dengan berbagai sesaji yang berserakan di beberapa tempat yang dianggap kramat.

Menjelang puncak.. goa akibat proses erupsi gunungapi ratusan tahun lampau menyeringai. selamat datang hai manusia angkuh... begitu kira2 sang goa bergumam. jaga sisa hutan ini dengan tanganmu.. lindungi dengan segenap kemampuanmu..

tiga ratus meter dari puncak utama gng tampomas, terdapat makam tua. Makan yang dipercaya sebagian orang sebagai makan asli Prabu Siliwangi dan pengikutnya. Namun, ada juga yang mempercayai, makan kramat itu merupakan tempat peristirahat sang penyebar Islam di tatar sunda. entah lah... yang jelas, di areal pemakaman tersebut cukup banyak tenda darurat yang digunakan para pencari kesaktian dan pencari kekayaan.

Rindu itu kembali datang...
setelah turun dari gunung itu.. kerinduan untuk mendaki gunung tidak lah sirna. justru sebaliknya.. semakin menggebu.. lagi.. lagi.. and lagi
Mulai lah bersama si sulung, Sodya Yadyaunnajabah (Dea), mulai melist gunung mana yang kira2 akan dijadikan sasaran berikutnya. Merapi, Lawu dan Semeru adalah target berikutnya yang akan kami daki.

di hati kecil.. Gunung Leuser adalah obsesi. Gunung yang memang tidak banyak orang mendapatkan keberuntungan sampai ke puncaknya. Bukan karena tinggi gunung ini, tapi karena perjalanan yang membutuhkan waktu lama. dan tentu saja keamanan yang tidak di jamin.

Gunung Burni Telong Di Bener Meriah pun memamerkan tubuh indahnya.. let's climb me..